Membaca 'Angsa dan Itik' itu seperti menyelami kolam yang tenang tapi penuh riak emosi. Novel ini bercerita tentang dua sahabat, Angsa yang elegan namun terikat oleh ekspektasi keluarga, dan Itik yang ceplas-ceplos tapi punya hati paling hangat. Mereka tumbuh bersama di desa kecil, menghadapi konflik kelas sosial yang memisahkan mereka—Angsa dari keluarga terpandang, Itik dari kalangan biasa. Puncaknya ketika Angsa dipaksa menikah dengan Bebek kaya demi bisnis keluarga, sementara Itik diam-diam mencintainya. Yang bikin greget, endingnya nggak cliché! Pengarang piawai banget memainkan simbolisme; bulu putih Angsa yang ternoda lumpur jadi metafora kuat tentang kemurnian vs realita.
Yang aku suka justru dinamika persahabatan mereka yang nggak melulu manis. Adegan ketika Itik ngotot ajak Angsa kabur dari pernikahan arrasinya, tapi Angsa memilih bertahan demi tanggung jawab—itu bikin sebel sekaligus haru. Novel ini juga menyelipkan kritik halus soal sistem feodal di pedesaan Jawa, kayak scene where the Duck Family's rice field got confiscated by the Swan's uncle. Nggak heran buku ini sering dibandingin sama 'Laskar Pelangi' versi urban, tapi dengan bumbu satire yang lebih tajam.