Yuk, Nikah!
Aku berjanji padanya untuk memberi kenangan manis dengan syarat dia mau berhenti mencintaiku, tapi pertanyaannya adalah apakah setelah tiga hari itu terlewati, Vivi akan benar-benar melepaskan perasaannya terhadapku atau tidak?
“Jangan begini. Kamu itu sudah jadi anak perawan.” Kudorong kepala yang bersandar di lengan, lalu kulepaskan pegangan tangannya. Tak enak, kalau nanti ada yang lihat bisa jadi fitnah.
Vivi mendesis, berdiri dan menuangkan air mineral.
“Nih.” Gadis remaja ini menyodorkan gelas berisi air padaku.
“Makasih, Vi,” ucapku kala menerimanya. Kuteguk sampai hampir habis. Segarnya.