Nilakandi
Sebuah surat pada kertas merah muda berbunyi, “Kamu suka hadiahnya? Aku nggak mau kamu bosan menunggu, jadi aku mengirim teman untuk menemanimu. Wine itu enak sekali, cobalah.”
Senyum yang semula mengembang lebar perlahan lenyap dari wajah Nilakandi. Ia dibuat kebingungan dengan isi surat itu.
“Kak Diwana kan nggak minum alkohol,” gumamnya.
Nilakandi mengangkat wine itu lagi dan melihat kadar alkohor di labelnya, 12%. Saat ia meletakkan botol wine itu, bucket bunga yang tergeletak di sana kembali menarik atensi Nilakandi. Dipegangnya buket bunga cukup besar itu, dipandanginya jenis bunga cantik itu lamat-lamat, mencoba mengingat memori dari otaknya.
Hot Chapters