Ada pesona tertentu dalam karakter yang lugu, seperti Tanjiro dari 'Demon Slayer' atau Deku di 'My Hero Academia'. Mereka sering digambarkan sebagai sosok yang optimis dan penuh harapan, membuat pembaca atau penonton langsung merasa terhubung. Namun, ketika sifat ini terlalu dipaksakan, bisa jadi terasa mengganggu. Misalnya, karakter yang terlalu naif sampai mengabaikan bahaya nyata justru membuat audiens frustrasi. Keseimbangan adalah kunci—kepolosan harus disertai perkembangan yang realistis agar tidak jadi sekadar alat plot.
Di sisi lain, beberapa cerita justru memanfaatkan keluguan sebagai titik balik dramatis. Bayangkan bagaimana Ellie dari 'The Last of Us' kehilangan kepolosannya setelah mengalami trauma. Perubahan itu justru memberi kedalaman pada narasi. Jadi, selama digunakan dengan bijak, sifat lugu bisa menjadi alat bercerita yang kuat, bukan sekadar stereotip.