Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dendam Janda, Talak Tiga

Dendam Janda, Talak Tiga

"Maafkan Zafi, Paman" "Tidak apa, ayo kita pulang. Kasihan Ibumu!" aku mengikuti langkah Paman kemudian menaiki motor menuju rumah. Sesampainya di halaman, kembali tubuh ini terhenyak. Tenda yang tadi digunakan untuk tamu undangan berganti dengan tenda untuk orang yang datang melayat. "Kak Zafi!" Irene saudara sepupuku datang dan menghambur ke pelukanku.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Duda Tampan Sang Pemikat Hati

Duda Tampan Sang Pemikat Hati

jelas Zea dengan nafas masih ngos-ngosan. "Santai aja, lagian paman Aku belum sampai, kok. Katanya dia ada meeting sebentar di luar." jawab Amira. Zea bernafas dengan lega. Dia duduk di dekat Amira dengan wajah yang terlihat lelah. Bagaimana tidak, dia berjalan sekitar dua meter. Kakinya pegal karena memakai sepatu hak tinggi, bahkan sedikit lecet. Zea yang tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, karena ia terbiasa berpenampilan sederhana.
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Dendam Seorang Janda

Dendam Seorang Janda

Plak Sebuah tamparan mendarat dipipi Pak Warto. "Tega sekali kamu Pak," kata Bu Siti sambil terisak tubuhnya lemas hingga merosot jatuh kelantai. "Mendingan Bapak pergi dari sini, bawa baju Bapak." usir Fatma. "Tolong maafkan Bapak Bu, Bapak nggak tahu kalau akan menyebar vidio itu. Bapak juga tidak tahu siapa yang merekamnya." kata Pak Warto.
1010.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 433 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Janda Muda

Janda Muda

Tebak Bu Ineke Arinda hanya menjawabnya dengan senyum alakadarnya. Bingung harua menjawab apa. "Tapi semua baik-baik saja kan? Tidak ada luka parah? Saya lihat tidak ada luka lecet apa pun di tubuh mu" tanyanya heran meneliti setiap inci tubuh Arinda "Eh..iya bu.. Tidak ada yang parah, hanya luka lebam-lebam saja di punggung dan perut saya." Jawab Arinda berusaha tenang
108.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 283 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Menggoda Sang Paman

Menggoda Sang Paman

Tangannya sibuk memasukkan makanan ke mulut, matanya terpaku pada layar, sementara sesekali ia tertawa atau berseru mengikuti alur cerita. "Ini cerita apa sih?" tanya govan melirik layar, ikut duduk di dekatnya, sambil membuka bungkus cemilan lain dan mulai ngemil santai. "Drama India," jawab Nabila tanpa mengalihkan pandangan. "Pemerannya gagah banget!" Govan terdiam sejenak, lalu menjilat jarinya dengan santai, menatap ke arah Nabila dengan ekspresi serius.
105.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 137 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Purba Sang Pemuas

Purba Sang Pemuas

teriak Renata melalui pelantang suara. Sesuai arahan naskah, Leo harus melompat maju dan menebaskan pedangnya ke arah dada Arya. Dengan seringai licik yang tak tertutupi, aktor tampan itu mengayunkan pedang besinya sekuat tenaga. Angin berdesir tajam membelah udara studio, mengincar langsung kulit Arya yang tidak terlindungi apa pun. Sayangnya, Leo lupa bahwa lawan mainnya bukanlah manusia modern biasa.
10.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 233 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
DENDAM SANG PUTRI

DENDAM SANG PUTRI

Mereka dengan gerakan yang sangat hati-hati sekali keluar dari persembunyian. "Aaaahhh … aku sangka kita berdua akan mati karena tertangkap basah sedang berkeliar tengah malam seperti ini tanpa tujuan yang jelas." Emilly mulai meracau kembali. "Ya, tenanglah kau Emilly, Tuhan masih melindungi kita!" Jose menarik kembali tangan Emilly, membawanya ke depan pintu kamar Rebecca. "Emilly, aku pinjam sebentar selendang sutramu itu. Untuk apa Paman?" Gadis itu menatap dengan penuh keheranan pada Jose.
108.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 227 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Bareksa

Bareksa

"Pad! Ya ampun ..." Nala cukup terkejut melihat kondisi Padma. Gadis itu mengenakan kebaya berlengan panjang yang sobek di daerah dada dan sisi kiri tubuhnya. Ada beberapa bagian muka dan lehernya yang lebam. Begitu melihat Nala, gadis itu segera menghambur ke pelukan Nala. "Bapak-bapak yang menolong teman saya?" tanya Nala dari balik bahu Padma.
2.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Bara Dendam di Perbatasan

Bara Dendam di Perbatasan

Menatap dengan sorot mata menuntut penjelasan pada Ki Sajiwa di belakangnya. Sebelah tangan yang sudah terangkat, siap menghajar lawan dengan sabetan pedang, perlahan-lahan diturunkan. Senjata tersebut lantas disarungkan ke dalam warangka di pinggang. Sementara sang petapa dari Teluk Lawa melangkah ke depan. Mendekati Pendekar Lebah Maut yang masih terduduk tanpa daya di tanah. “Harus aku akui, kau salah satu cecunguk istana yang sangat pemberani,” ujar Ki Sajiwa, sengaja memuji orang terlebih dahulu.
103.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 73 kali sebagai padma tere liye
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status