Poor Fatma
❤❤❤
“Orang bilang, setiap luka pasti ada penawarnya. Itu sebabnya, dokter pun ada gunanya. Tapi, aku tidak mau menjadi dokter hanya untuk merawat pasien sepertimu, Fatma.”
Kata-kata itu kudengar pertama kali—sesaat aku sadarkan diri. Pria yang mengatakannya adalah seorang tampan bersnelli yang tak canggung mengoleskan salep di badanku. Sebuah name tag kecil di dadanya menunjukkan sebuah nama yang tidak asing lagi.
“Dokter Pandri,” sebutku, tak sengaja.
Dia menghentikan aktivitasnya, lantas menautkan alis tebalnya. Tak lupa, dia bingkai juga sebuah senyum hangat. “Ya. Kamu mengenalku?”
Hot Chapters