Terjebak Di Pegunungan Salju Bersama Om Asing
Dia menelan ludah, lalu wajahnya perlahan berubah menjadi pucat, bahkan ekspresinya langsung berubah menjadi sangat serius.
“Kamu pasti salah dengar. Ini di gunung salju, mana mungkin ada sinyal. Ponselku juga sudah lama mati karena beku.”
Saat ini, kondisiku benar-benar sudah kelelahan dan tak punya energi untuk berpikir macam-macam, jadi aku pun tak bertanya lebih banyak.
Malam harinya, aku dan om berhimpitan di atas satu-satunya tikar jerami yang ada, berselimutan jaket yang beraroma keringat.