Di antara penulis yang paling tajam menggarap tema pengkhianatan keluarga, nama William Faulkner selalu membuatku berpikir lebih lama. Dari cara ia melipat waktu dan memecah perspektif di 'Absalom, Absalom!' sampai kehancuran keluarga di 'The Sound and the Fury', Faulkner menulis pengkhianatan bukan sebagai momen tunggal, melainkan sebagai warisan yang menular, diwariskan dari generasi ke generasi.
Aku suka bagaimana ia memaksa pembaca untuk merangkai potongan-potongan cerita yang pecah—kamu merasakan luka keluarga seperti sesuatu yang hidup, bernafas, dan terus menyala. Dalam cerita-ceritanya, pengkhianatan sering datang dari harapan, rasa malu, dan kebanggaan yang salah arah, bukan hanya dari motif politik atau keserakahan sederhana. Itu membuat pembacaan jadi lebih perih dan intim.
Kalau mau mencari penulis yang bisa membuatmu merasakan betapa rumitnya ikatan darah dan kebohongan di dalamnya, Faulkner selalu jadi rekomendasiku. Aku sering kembali ke baris-barisnya ketika butuh pelajaran tentang betapa destruktifnya dosa keluarga yang tak pernah diakui—dan itu selalu terasa seperti dialog dengan masa lalu keluargaku sendiri.