Dia, Adnan.
Arini menjedanya sebentar, untuk menarik nafasnya supaya bisa bercerita lebih panjang.
"Ternyata setelah melewati rangkaian tes segala macemnya, psikiaternya bilang kalau Adnan mengidap penyakit asd, di hari itu rasanya hidup ibu hancur, kenapa harus Adnan, padahal Adnan udah punya penyakit juga, takutnya asd ini memperparah kondisinya. Dua tahun pertama sejujurnya ibu gak bisa terima dengan kondisi Adnan, ditambah lagi liat kondisi Adnan ketika terapi pasti seringnya nangis dan teriak-teriak karena gak nyaman, cuman makin ke sini berusaha menerima semuanya, gak selamanya ibu terus-terusan gak terima dengan kondisi Adnan."
Hot Chapters