Nama penulisnya gampang diingat: Tere Liye. Aku masih ingat bagaimana judul 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu' pertama kali menarik perhatian teman sebangku di SMA, dan sejak itu kerenyahan emosional dari cerita itu selalu nempel di kepala. Penulisnya—Tere Liye—adalah salah satu penulis populer Indonesia yang sering menulis cerita-cerita yang gampang bikin baper, dari kisah remaja sampai tema yang lebih dewasa, ditulis dengan bahasa yang mengalir dan mudah dicerna.
Buatku, menulis nama Tere Liye saja sudah membawa ingatan tentang gaya narasi yang penuh perasaan, karakter yang ringkas tapi berkesan, serta adegan-adegan yang bisa membuat pembaca teringat lama sesudah menutup buku. 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu' bukan hanya soal judul yang puitis; novel itu memadukan romansa, konflik batin, dan momen-momen introspektif yang khas dari karya-karyanya. Aku sering merekomendasikan judul ini ke teman yang mau bacaan ringan tapi tetap menyentuh.
Kalau ditanya lebih jauh soal penulisnya, Tere Liye memang dikenal produktif dan punya basis pembaca yang besar di Indonesia. Dia sering mengangkat tema-tema kemanusiaan, persahabatan, serta pilihan hidup yang membuat pembaca gampang terhubung. Meski aku nggak mau menghabiskan paragraf ini cuma memuji, penting juga bilang kalau daya tarik utama buku-bukunya justru terletak pada cara dia menyentuh perasaan lewat kalimat sederhana—sesuatu yang juga terlihat jelas di 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu'.
Di akhir tetap saja aku merasa hangat setiap kali mengingat siapa penulisnya: Tere Liye. Kalau kamu belum baca bukunya, siapkan tisu dan waktu santai—karena ceritanya ringan di luar tapi dalam di dalamnya, persis kayak judulnya yang puitis itu.