Suami Adikku Memuja Rahimku
Bunga peoni dan mawar putih tersusun rapi di sepanjang aisle, wangi lembutnya bercampur dengan parfum para tamu undangan-para kolega Papa, rekan bisnis, dan kerabat jauh yang namanya bahkan nyaris tak kukenal.
Aku duduk di barisan belakang, mengenakan kebaya broken white yang sama sederhananya dengan hatiku yang kupaksa tenang. Rambutku kini tersanggul kembali, rapi, tanpa helaian dramatis. Bekas tamparan di pipi telah disamarkan sempurna oleh riasan, seolah tak pernah ada kekerasan, tak pernah ada air mata, tak pernah ada pengakuan berbahaya di balik pintu kamar tadi.