AKU BUKAN SEORANG PELACUR
Jemarinya menyentuh ke punggung tanganku.
Aku menarik napas. Tenggelam dalam tatap matanya, dan hanyut di antara nada rendahnya. Seolah musik sebelum tidur yang terdengar merdu dan sopan untuk merangkai jutaan mimpi indah, pun seperti puisi cantik tanpa penghujung, sebelum pada akhirnya harus kuakui bagaimana kini aku sedang merasakan kasih sayang seorang ibu lagi setelah sekian lama. “Iya, saya mau, Bu.” []
POMME, 2022.09.08.