Membaca 'Tuhan Izinkan Aku Melacur' itu seperti menyelam ke dalam kolam air asin yang perih tapi memikat. Novel ini bercerita tentang Kenanga, seorang perempuan muda yang terdampar di dunia prostitusi karena tekanan ekonomi dan trauma masa kecil. Kisahnya dimulai ketika dia meninggalkan kampung halamannya setelah diperkosa oleh ayah tirinya, lalu bertemu Madam Larung yang menjanjikan 'pekerjaan' dengan bayaran tinggi. Narasinya bukan sekadar tentang seksualitas, tapi lebih pada pergulatan batin: bagaimana Kenanga mencoba mempertahankan kemanusiaannya di tengah dunia yang mengobjektifikasi tubuhnya. Ada adegan-adegan brutal tapi jujur, seperti ketika dia harus melayani klien pertama sambil menahan muntah, atau momen-momen rapuhnya ketika menyimpan uang di bawah kasur untuk membayar sekolah adiknya. Yang bikin novel ini istimewa adalah cara penulis, Eka Kurniawan, menggali kompleksitas moral tanpa menghakimi - seolah mengatakan 'hidup kadang lebih rumit dari sekedar hitam putih'.
Bagian paling menusuk justru ketika Kenanga mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Ada semacam ironi tragis di situ: dia yang awalnya trauma karena pelecehan seksual, justru menemukan 'kekuatan' dalam menjual tubuhnya sendiri. Tapi Eka Kurniawan piawai membuat pembaca tidak terjebak dalam romantisisasi - lewat karakter-karakter seperti Iteung (teman sesama pekerja seks) dan Jodi (anak jalanan yang dianggap seperti adik), kita melihat bagaimana sistem terus menindas mereka yang paling rentan. Endingnya terbuka, tapi justru di situlah keindahannya - memaksa kita untuk terus memikirkan nasib Kenanga lama setelah halaman terakhir.