Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

Haidar chat kasih puisi: Wanitaku, Sayang! Rahim yang Kugali Kini Telah Tertali Aduan Nafsu Menganga Doa dan Cinta pun Berbunga Tubuh yang Kuraba Kini Hangatnya Mengaba Tersingkir dari Angin Membunuh Gemuruh Dingin Qobiltu yang Menjadi Janji Kini Telah Kuhempas dari Ruji Menjemput Pagi
104.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 194 kali sebagai puisi tentang rasa
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Baca Semua Ulasan
Istri yang Kau Sengsarakan

Istri yang Kau Sengsarakan

Nayara menjelaskan dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Waw, berarti masih harus menunggu sangat lama ya, Mama?” Mata Rayhan berbinar, anak itu sangat suka dengan kacang kedelai tapi tidak tahu kacang kedelai bisa bertunas. “Kamu simpan ini baik-baik, oke?” ujar Nayara. “Kacang kedelai, cepatlah bertunas. Rayhan ingin cepat sembuh lagi supaya bisa menjaga Mama dari orang-orang jahat itu.” Rayhan begitu tulus dan polos.
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 56 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
Suamiku, Adik Iparku

Suamiku, Adik Iparku

Ungkapan perasaan yang aku milik tak mudah hilang begitu saja, meski waktu terus menggerusnya. “Aaarrrggghhh ... “ aku menjerit frustrasi saat hendak melanjutkan kembali puisiku. Emosi menguasai, mengingat bahwa perasaanku telah tersampaikan padanya. Menyesal, mengapa harus ia tuangkan semuanya dalam bentuk karya. Di mana karya tersebut dinikmati oleh FA itu sendiri. Aku membenci diriku, juga kebodohanku. “Apa kau baik-baik saja, hah?”
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
PESONA SUAMIKU YANG TAK PERNAH MEMILIHKU

PESONA SUAMIKU YANG TAK PERNAH MEMILIHKU

Saat dibalik, ada sebaris kalimat yang ditulis tangan. "Bagaimana kalau bahagia itu cuma bisa dirasakan sebentar ... sebelum seseorang pergi?” lirih Ria saat membacanya. Ria menatap lama tulisan itu. Menelan ludah yang terasa pahit. Hatinya menolak menafsir, tapi pikirannya berisi, ada apa sebenarnya dengan Bakar? "Entah, Pak. Mungkin sebuah kutipan quote saja," kat Ria cengengesan sambil mengembalikan kartu nama tadi.
103.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
TULANG SUCI NAGA ABADI

TULANG SUCI NAGA ABADI

Suara dentingan lembut, seperti nada musim gugur dari petikan kecapi, menggema samar dari tebasan itu. Aura emosi mengalir deras: rindu, kehilangan, keheningan. Ada yang matanya basah tiba-tiba. Ada yang mencengkeram dada. Ada pula yang hanya bisa berdiri membeku, tak tahu apa yang sedang bergemuruh di dalam dirinya. "Apa ini..." bisik seorang murid. "Kenapa rasanya seperti... rindu... takut... marah... semua campur aduk..."
1015.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 376 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

--- Judul: Rumah Tanpa Alarm Rumahku tidak punya alarm, Tapi aku tahu kapan orang dewasa sedang takut. Suara pintu yang ditutup terlalu pelan. Napas panjang sebelum jawab pertanyaan. Pelukan yang lama tapi tidak bicara. Dulu aku pikir rumah adalah bangunan. Sekarang aku tahu rumah itu perasaan. Dan kadang rumahku pindah-pindah: Dari pelukan Mama, ke genggaman Papa, ke senyum yang tidak diucapkan.
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 68 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
JEJAK HASRAT

JEJAK HASRAT

Kode-kode kecil dan titipan salam melalui teman-teman mereka adalah cara mereka mengungkapkan perasaan tanpa mengucapkan kata-kata yang sebenarnya. Sania: "Pak Parman, teman saya suka sekali membaca puisi. Dia mengatakan bahwa puisi adalah cara yang indah untuk mengungkapkan perasaan. Saya kira dia benar." Parman: "Puisi adalah cara yang indah untuk mengungkapkan apa yang sulit diucapkan, Bu Sania."
1041.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 156 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
Behind Her Pride

Behind Her Pride

Rasa yang tak terukur kata Ada beberapa rasa yang tak terukur oleh kata. Kamu tidak bisa melihat seperti apa wujudnya tentu saja. Dia tidak tampak di matamu pun kamu tidak bisa menemukannya di kepalamu. Sejauh apa pun kamu mencari. Sedalam apa pun kamu menyelami. Nihil, hanya itu yang akan kamu temui. Ini terasa menyenangkan sekali, seperti teka-teki. Dia datang dan pergi namun aku selalu merindunya kembali.
9.721.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 619 kali sebagai puisi tentang rasa
Baca
+Pustaka
MENJEMPUT CINTA DI UJUNG GELAM

MENJEMPUT CINTA DI UJUNG GELAM

Berpuluh-puluh musim telah berganti Nyanyian katak telah berganti ocehan prenjak di pagi hari Aroma tanah basah telah berganti aroma debu Bocah-bocah telah beranjak dewasa, Tapi rasa ini masih sama, Mencapit kuat seluruh lobus hati ini. Tuhan, Mengapa Kau hujamkan rasa ini Rasa yang tak mampu kuungkapkan Gegara sederet etika.
109.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 249 kali sebagai puisi tentang rasa
Tampilkan Ulasan (10)
Baca
+Pustaka
Mita el Rahma
Semoga terhibur dan mendapatkan sesuatu yang terselip-selip dalam cerita setiap chapternya ... Jangan lupa tinggalkan jejak rate dan komen karena itu adalah vitamin buat author ... Tengkyu untuk semua reader kesayangan yang udah kasih support. Semoga Allah limpahkan kasih sayangNya pada kita ...
Rendra Lima
lanjutannya usahain ceritanya yang ringan aja..klo bs konflik nya sedikit aja..klo terlalu banyak dan muter2 bakal bosen juga hehe...so far msh ringan lah...masih bisa dinikmati sambil minum soklat hangat di Indomaret..wkwkwkwkwk...
Baca Semua Ulasan
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status