Rimba Memburu Senala
Saram dikenal bukan karena banyak bicara, tapi karena satu antologi puisi berjudul Tanah yang Menolak Diam.
Puisi-puisi dalam antologi itu bukan sekadar kata-kata: mereka menggugah lapisan realitas. Salah satunya, “Nyanyian Retakan Ketiga,” dibacakan secara tak sengaja di Balairung Batu saat musim kekeringan. Sesaat setelah bait keempat, tanah di bawah Tilangkar retak perlahan, mengalirkan air asin dari dalam bumi yang diyakini telah mati. Warga menyebutnya air kenang, karena baunya memancing ingatan orang-orang akan tempat yang tak pernah mereka kunjungi, tapi mereka rindukan.
인기 회차