Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana kupu-kupu sering dijadikan simbol transformasi dalam filosofi hidup. Proses metamorfosisnya dari ulat yang merangkak menjadi makhluk bersayap indah selalu mengingatkanku bahwa perubahan, meski menyakitkan, bisa membawa kita pada versi terbaik diri sendiri.
Dalam budaya Jepang, kupu-kupu kerap diasosiasikan dengan jiwa—entah itu kebahagiaan, kesementaraan, atau reinkarnasi. Di 'Mushishi', misalnya, kupu-kupu ephemeral menggambarkan betapa fragile-nya kehidupan. Tapi justru karena itulah kita harus berani 'terbang' sebelum waktunya habis. Setiap kali melihat kupu-kupu di taman, aku selalu teringat: mungkin kita semua sedang dalam tahap kepompong menuju sesuatu yang lebih indah.