Tiga Mayat Satu Takdir
Laila mengangguk pelan, memeluk Molly erat, tapi matanya penuh tekad.
Lorong berikutnya melebar ke ruang besar, dindingnya dipenuhi sarang laba-laba batu—monster berbulu hitam, kaki berduri, mata merah seperti bara. “Jangan biarkan mereka sematkan jaring!” perintah Kael, sihir halusinasinya aktif, membuat laba-laba melihat bayang satu sama lain, saling serang. Lyra melepaskan hujan air tajam, menusuk tubuh laba-laba, cairan hijau menetes. Sarah menciptakan ilusi api, membuat laba-laba panik, sementara Laila mengunakan sihir sonik, menghancurkan kaki mereka. Murphy menebas dengan pedangnya, tapi jaring laba-laba sempat melilit kakinya, memaksanya merangkak sebelum Kael memotongnya.
Hot Chapters