Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Hello, Nanny!

Hello, Nanny!

Dia sontak terkejut dan menoleh cepat. “Hei!” Matanya terbeliak melihat kertasnya sudah berpindah tangan ke Rere. “Penasaran. Lagi ngerjain apa sampai muka kamu frustrasi gitu.” “Balikin enggak?” “Enggak.” Rere mengacungkan kertas itu dan mencoba membaca isinya. “Wah, ternyata puisi!” “Balikin, Re.” “Cinta datang tidak diundang, cinta tidak pernah tahu arah akan berhenti di man—eits!” Rere berkelit saat Kael hendak menyambar kertas itu.
1086.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.8K kali sebagai referensi puisi
Tampilkan Ulasan (34)
Baca
+Pustaka
Eliyen Author
Bab-bab awalnya nendang banget! Komedinya lucu. Ceritanya warming buat heart-heart yang sedang galau sama hidup. Ini novel recommended banget dibaca sebelum kerja, istirahat kerja, pulang kerja, sebelum tidur. Interaksi Reyga-Kael-Kalla bikin senyum-senyum terus. ,,,^^
Yoshi Dwi Ramadani
hai kak beb, br baca cerita ini gegara liat chap terakhir ceritamu di hello, husband. semoga aku bisa nyelesain ini, penasaran Ama cerita Kalla n om Reyga hehe... awal chapter aja udah menarik hati,, semangat berkarya terus kak beb...<3
Baca Semua Ulasan
Terikat Tatapan Pak Dosen

Terikat Tatapan Pak Dosen

Tenang, runtut, dan tanpa banyak basa-basi. “Dalam puisi, metafora bukan sekadar hiasan. Ia cara penyair memindahkan makna—” Ia berhenti sejenak. Tatapannya bergerak ke arah barisandi tengah. Bangku itu kosong. Khai melanjutkan kalimatnya, tapi ritmenya sedikit berubah. “—memindahkan makna… dari sesuatu yang konkret… ke sesuatu yang lebih… personal.”
827 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 21 kali sebagai referensi puisi
Baca
+Pustaka
Claudia's Gift Shop

Claudia's Gift Shop

Ia merasa merasa bersalah karena kelalainnya itu. “Aku hafal betul buku-buku dongeng yang kalian baca itu, karena aku kenal dengan penulisnya. Mereka adalah teman-temanku yang sudah lama mati. Mungkin kalian sedikit terpengaruh dengan isinya, tapi bisa kupastikan itu semua hanyalah karangan, kecuali buku ‘Kesatria Terhormat’ yang mengambil sedikit referensi dari puisi lama yang ditulis oleh raja terdahulu jauh di masa lampau.
104.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 168 kali sebagai referensi puisi
Baca
+Pustaka
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

tanya Sita seperti tak sabar saat Bumi berhenti untuk menyesap dulu rokoknya. "Di antaranya ada puisi untuk perempuan yang tak begitu kukenal, tapi cukup sering kulihat di kampus. Ada juga puisi untuk perempuan yang kemudian jadi istriku... sekarang sudah jadi mantan istri. Dan...," Bumi menoleh sebentar ke wajah Sita, lalu melanjutkan dengan suara pelan tapi mantap, "ada pula puisi yang kutulis untuk Teteh."
1011.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 286 kali sebagai referensi puisi
Baca
+Pustaka
MENJADI ISTRI PENGGANTI UNTUK TUAN ADIPATI

MENJADI ISTRI PENGGANTI UNTUK TUAN ADIPATI

Sekilas mirip seperti kata kata yang dikutip dari puisi namun sebenarnya menunjukkan tempat yang sesungguhnya. Tunggu sebentar! Puisi? Mungkinkah dirinya salah mengira? Ini benar benar puisi? Xu Qingyu pun langsung membalik buku buku itu dan membaca tulisan di atasnya. Pada saat itu mata Xu Qingyu pun langsung membelalak dan dirinya berlari keluar untuk menyusul Ling Shang.
108.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 341 kali sebagai referensi puisi
Baca
+Pustaka
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

sahut Nauli. "Ya, jika puisi itu tersebar, aku tidak tahu berapa banyak pujangga kerajaan yang akan memilih berhenti menulis karena merasa malu," Sori tertawa pelan, penuh kekaguman. "Aku tidak tahu keberanian macam apa yang membuatnya sanggup menyentuh begitu banyak topik..." Sori menatap langit, menggumamkan baris puisi yang kini terasa begitu nyata di tengah kemenangan ini:
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 38 kali sebagai referensi puisi
Baca
+Pustaka
SOPIR PRIBADIKU TERNYATA MILIARDER

SOPIR PRIBADIKU TERNYATA MILIARDER

Di pagi yang semakin cerah, Keira memutuskan untuk menulis sebuah puisi—kata-kata yang mengalir dari dalam hatinya, mencurahkan segala perasaan dan harapan. Ia menuliskan tentang malam-malam yang penuh keraguan, tentang cinta yang menantang segala rintangan, dan tentang janji yang terpatri dalam cincin di jarinya. Adrian membaca puisi itu dengan saksama, matanya lembab karena terharu. “Kata-katamu begitu indah, Keira. Mereka bercerita tentang keberanianmu dan tentang harapan yang kau miliki. Aku ingin selalu menjadi bagian dari setiap baitnya.”
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 138 kali sebagai referensi puisi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status