ANAK TUKANG CUCI PIRING
Namun melihat tubuh renta Mih Enur, mendadak hatiku tidak tega, pasti lah beliau harus mengeluarkan tenaga ekstra agar bisa membuka kulit singkong dan memotong bahan makanan yang keras itu.
“Di sini saja ya, Neng, potong singkongnya.” Mih Enur membawa dua buah pisau beserta wadah yang terbuat dari anyaman bambu, lebih tepatnya kami sering menyebutnya carangka.
“Singkongnya meni besar-besar ya, Neng. Mulus lagi,” kata Mih Enur, aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang semringah.
“Kayaknya kalau dibuat kolak bakal kebanyakan, ya?” ucapnya sambil menatapku.