Satu baris dari 'Biar Bumi Akan Berlalu' terus berputar di kepalaku sampai aku nggak bisa tidur: 'Biar bumi akan berlalu, yang penting kita pernah ada.'
Baris ini nempel karena sederhana tapi penuh berat—dia bicara soal keberadaan yang bermakna meski segalanya tak abadi. Aku ingat waktu pertama lihat itu di feed; caption orang-orang penuh nostalgia, foto-foto kenangan, dan tiba-tiba semua orang merasa terhubung oleh kalimat pendek itu. Bukan hanya soal romansa atau patah hati, kutipan ini bisa dipakai untuk kehilangan, perpisahan, ataupun kemenangan kecil yang ingin diabadikan.
Menurutku yang bikin viral bukan hanya kata-katanya, melainkan ruang yang ditinggalkannya: cukup luas untuk diisi pengalaman siapa pun. Aku sering pakai baris itu sebagai penutup pesan lama atau status tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Rasanya seperti memberi restu pada sesuatu yang sudah lewat—sebuah cara lembut menerima perubahan tanpa kehilangan makna. Itu kenapa kutipan itu masih sering muncul, dan akan terus terasa relevan buatku saat aku melihat foto-foto lama dan senyum sendiri.