Ada ungkapan yang selalu membuatku merenung setiap kali lewat di bawah deretan pohon tinggi di taman.
Secara harfiah, semakin tinggi pohon, semakin banyak bagian pohon itu yang terpapar angin kencang — ujung-ujung ranting, tajuk yang terbuka, daun yang luas. Itu logika sederhana dari fisika: semakin menjulang, semakin sedikit penghalang di atasnya, sehingga angin tak lagi tersumbat oleh pohon-pohon yang lebih rendah. Tapi aku suka menggali maknanya lebih jauh. Dalam hidup, 'menjadi tinggi' bisa berarti mendapat posisi, keahlian, ketenaran, atau sekadar menarik perhatian. Saat kita naik, kita terlihat lebih jelas; kritik, harapan, dan godaan ikut datang.
Dari perspektifku yang suka memperhatikan orang-orang di sekitarku, metafora ini bukan cuma peringatan, melainkan juga ajakan untuk menyiapkan akar. Pohon yang kuat bukan hanya yang tinggi, tapi yang akarnya dalam — komunitas, kebiasaan baik, dan keterampilan untuk beradaptasi. Kadang yang tampak 'lebih aman' di bawah naungan ternyata kurang belajar melentur saat angin menerpa. Jadi kalau mau tumbuh, aku memilih belajar menerima terpaan: menambal kelemahan, mencari penopang, dan tetap rendah hati. Itu alasan kenapa aku menghargai orang yang sukses tapi juga tetap tersambung dengan realitas—kadang mereka yang paling tinggi justru paling bijak soal bagaimana menghadapi angin.