Gairah Saudara Ipar
Bahkan Kania, yang selama ini selalu tampak kuat dan berwibawa, hari itu berjalan dengan langkah yang sedikit gemetar menuju ruang dokter.
Suara ketukan sepatunya terdengar bergema di lorong panjang. Sesekali dia mengusap dadanya, menahan napas yang terasa berat. Di tangannya, tas kecil dia genggam erat, seolah benda itu bisa memberinya kekuatan.
Begitu pintu ruang dokter terbuka, aroma antiseptik langsung menyambut. Dokter paruh baya yang menangani pemeriksaan itu berdiri dari kursinya, menyambut dengan sopan.