KETIKA ART-KU DIPANGGIL MAMA OLEH ANAKKU
Bersih benar-benar bersih.
"Sabar, Sayang. Nanti kita beli lagi."
"Janji, ya."
"Iya. Janji."
Safira masih di kamarnya, melihat barang terakhir berupa lampu tidur sedang dimasukkan ke dalam kardus. Menggenang air mata di ujung netranya. Lampu itu selalu dipakai saat ia bercumbu mesra dengan suaminya. Pria yang mengatakan cinta padanya namun rupanya dusta. Safira menengadah menyesapkan air matanya, berharap tidak jadi jatuh. Namun ternyata justru makin deras. Ia ingin kembali seperti itu lagi namun itu adalah mustahil sebab sekali ternodai dan hancur, maka takkan mungkin kembali lagi. Safira menangisi kenangan yang hilang bersamaan dengan lampu itu dibawa keluar.