Kubalas Pengkhianatan Suamiku
"Kita tidak akan mati. Kita akan menang. Untuk Lita. Untuk ibumu. Untuk semua orang yang pernah dirugikan oleh Hartini."
Arjuna menatapku, lalu mengangguk pelan.
Dua hari kemudian, Lita sudah membaik. Demamnya turun, dan ia sudah bisa tersenyum lagi. Kami akhirnya berangkat ke Jakarta, dengan ekstra hati-hati.
Pak Wibowo menemui kami di sebuah kafe tua di kawasan Menteng. Bersamanya, seorang pria berusia tujuh puluhan, berambut putih, mengenakan kacamata tebal. Hakim Santoso.