Duka Cita
Ia mengusap sudut mata Cita yang masih basah, dan berkata, “keputusanmu sudah tepat, karena kita memang sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Mami … juga mau cerai sama papamu.”
“Mami … mau cerai?” Ternyata, banyak hal terlewat ketika Cita menghilang beberapa waktu yang lalu. “Mami serius mau cerai sama pa … papa sudah nalak Mami?”
Sandra menggeleng, dan buru-buru mengusap air mata yang kembali jatuh di kedua pipi. Meskipun rasanya sudah sangat terlambat, tetapi lebih baik bercerai daripada tidak sama sekali. “Mami sendiri yang mau cerai, karena … sudahlah, Sayang. Pokoknya, setelah ini Mami mau kita jalani hidup baru. Kalau perlu, kita pergi dari Jakarta, dan … lupakan semuanya.”
Sikat na Kabanata