Tukang Pijat Tampan
Jari-jarinya bergerak pelan, memilih setiap kata dengan hati-hati.
[Laras, aku tahu kamu marah. Dan aku mengerti. Aku minta maaf kalau berita ini menyakiti kamu. Tapi please percaya sama aku... ini cuma pekerjaan. Ini cuma acting. Tidak ada perasaan di baliknya. Kamu adalah satu-satunya yang aku cintai. Kamu satu-satunya yang ada di hatiku. Dan itu tidak akan pernah berubah, apa pun yang terjadi. Aku sayang kamu, Laras. Sangat-sangat sayang. Aku cinta kamu. Please... kalau kamu sudah siap bicara, telepon aku. Atau balas pesanku. Aku tunggu.]
Adit membaca ulang pesannya beberapa kali, memastikan kata-katanya terdengar tulus, lalu menekan tombol kirim.