Pijatan Nikmat Sang CEO
"Bagaimana jika aku membuka diri dan malah tersakiti lagi? Bagaimana jika aku tidak cukup kuat?"
"Kau tahu," Nathaniel berbicara setelah jeda panjang, "kadang aku berpikir kekuatan sejati bukan tentang seberapa kokoh tembok yang kita bangun, tapi tentang keberanian untuk tetap terbuka meski tahu risiko tersakiti tetap ada."
Arissa menatapnya, kata-kata Nathaniel menggema di kepalanya.
"Itu yang kulakukan dengan perusahaan baruku," lanjut Nathaniel. "Membuka diri pada kemungkinan gagal lagi. Tapi juga pada kemungkinan berhasil dengan caraku sendiri."