Selubung Memori
Firdaus Callistamadara aku hampir matisaat air mataku mengalirtangan di sayat berdarahdia jantung hatiku
“Nah, kau sudah tahu. Aku yakin kau tidak tenang, kan? Dia mungkin bisa sedikit membantumu. Tapi kembali lagi, proses pengendalian kemampuan tak bisa instan seperti itu. Kau harus... bersabar, menerima dirimu terlebih dahulu.”
“Aku tidak benar-benar mengerti,” ujarnya. “Kurasa aku sudah menerima.”
“Ada banyak caranya,” kataku. “Setiap orang juga punya caranya masing-masing. Terkadang kita menganggap sudah menerima, padahal kita masih mencoba mengutuk kemampuan karena semua yang menimpa kita. Maaf kalau aku lancang, apa kau pernah benci kemampuanmu karena sesuatu?”
Hot Chapters