Ada satu cerita yang selalu membuatku tersenyum setiap kali mengingatnya. Ini tentang dua sahabat, Rara dan Dito, yang bertemu di bangku SMP. Awalnya, mereka sama sekali tidak akrab—Rara adalah anak kelas unggulan yang pendiam, sementara Dito dikenal sebagai 'si trouble maker' yang doyan bolos. Tapi suatu hari, ketika Dito ketahuan menyontek ulangan matematika, Rara justru membelanya di depan guru. Alasannya sederhana: 'Dia nggak nyontek, Bu. Aku yang nawarin jawaban.' Padahal, itu bohong besar. Entah kenapa, sejak saat itu, mereka jadi dekat. Mereka saling mengisi kekurangan: Rara membantu Dito belajar, Dito mengajarkan Rara berani hidup lebih santai. Persahabatan mereka diuji saat Dito harus pindah sekolah karena orang tuanya pindah kerja. Tapi justru di situ mereka sadar, jarak nggak pernah bikin persahabatan yang tulus pudar.
Yang kusuka dari cerita ini adalah bagaimana penulis menggambarkan dinamika pertemanan remaja dengan jujur. Nggak melulu manis, tapi ada konflik, salah paham, dan upaya untuk saling memahami. Detail kecil seperti Dito yang selalu bawa permen rasa stroberi untuk Rara, atau Rara yang diam-diam ngumpulin uang jajan buat beliin Dito komik favoritnya, bikin cerita terasa hidup. Endingnya pun nggak klise—mereka nggak harus bertemu setiap hari buat tetap jadi sahabat. Pesannya jelas: persahabatan yang kuat dibangun dari penerimaan, bukan kesempurnaan.