Ada momen di tengah malam ketika pertanyaan ini mengusik pikiran lebih dalam dari yang kusadari. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan cerita religius tapi juga menyaksikan penderitaan nyata, aku melihatnya seperti puzzle eksistensial. Tuhan memang Mahakuasa, tapi kekuasaan itu mungkin bukan tentang menghilangkan setiap duri di jalan, melainkan memberi kita kaki yang kuat untuk melangkah. Dalam 'The Book of Joy', Dalai Lama dan Desmond Tutu bicara tentang penderitaan sebagai tanah subur tempat kedamaian dan empati tumbuh. Aku mulai memandangnya seperti plot twist dalam cerita epik—konflik yang membuat karakter (kita) berkembang. Bukan berarti sakit itu adil, tapi mungkin ada dimensi spiritual di baliknya yang tak sepenuhnya kita pahami sekarang.
Di sisi lain, aku terpikir tentang konsep free will. Bayangkan dunia tanpa pilihan atau konsekuensi—bak game tanpa challenge, monoton. Penderitaan sering kali muncul dari tindakan manusia sendiri, dan Tuhan membiarkan kita belajar dari itu. Seperti orang tua yang membiarkan anaknya terjatuh agar bisa berdiri sendiri. Tapi tetap saja, ada jenis penderitaan yang tak masuk akal—penyakit, bencana alam—di sini aku hanya bisa merangkul misteri itu dengan rendah hati. Akhirnya, yang tersisa adalah percaya bahwa ada mozaik besar yang tak seluruhnya terlihat dari sudut pandang kita yang terbatas.