Ada sesuatu yang magis tentang upacara tedak siten, tradisi Jawa yang merayakan langkah pertama bayi. Aku ingat bagaimana keluarga besar berkumpul, menghiasi halaman dengan janur kuning dan bunga. Prosesinya dimulai dengan memandikan bayi menggunakan kembang setaman, lalu mengenakan pakaian adat lengkap. Tahap paling seru adalah ketika si kecil diarak melewiti tujuh tumpukan bubur warna-warni—setiap warna melambangkan harapan berbeda untuk masa depannya. Aku selalu terharu melihat orang tua dengan sabar membimbing anaknya melangkah, seolah-olah sedang menitipkan doa lewat setiap jejak kaki mungil itu.
Bagian yang tak kalah penting adalah penyebaran beras kuning dan uang logam, simbol kemakmuran. Lalu ada ritual memilih benda dari nampan—jika anakku dulu memilih buku, nenek langsung berseru 'Dia akan jadi orang pandai!' Makanan tradisional seperti jenang abang dan putih juga disajikan, mengandung filosofi kehidupan yang seimbang. Menurut pengalamanku, inti tedak siten bukan hanya formalitas, tapi tentang menanamkan nilai-nilai lewat simbol sederhana yang menyentuh hati.