Membahas tokoh astronomi Islam pertama selalu mengingatkanku pada perpustakaan tua di kampus tempat aku sering menghabiskan waktu. Al-Battani, dikenal sebagai Ptolemy-nya Arab, hidup sekitar 858-929 Masehi, tapi jejaknya sudah dimulai lebih awal. Yang menarik, ilmuwan seperti Ibrahim al-Fazari di abad ke-8 Masehi justru disebut-sebut sebagai pelopor pembuatan astrolabe pertama dalam peradaban Islam. Aku terpesona bagaimana karya-karya awal ini menjadi fondasi bagi perkembangan astronomi modern, dengan observatorium-observatorium megah yang kemudian dibangun di Baghdad dan Damaskus.
Kalau dirunut lebih jauh, tradisi astronomi sebenarnya sudah hidup sejak pra-Islam dengan tokoh seperti Sahl ibn Bishr, tapi baru benar-benar berkembang pesat di era Dinasti Abbasiyah. Aku suka membayangkan bagaimana mereka bekerja tanpa teleskop canggih, tapi mampu menghasilkan tabel astronomi yang akurat. Pencapaian mereka dalam kalender qamariyah masih dipakai sampai sekarang, bukti keabadian kontribusi para pionir ini.