PELITA DI TENGAH GELAP
Aku menggendongnya sebentar, menatap wajah polosnya, dan merasakan tekad baru tumbuh di dada.
Sepanjang pagi, kami berkeliling pasar, menawarkan risoles, tempe mendoan, dan kue jajanan lain. Beberapa warung menolak, beberapa menerima. Aku belajar menerima penolakan, tapi tetap ada getir di dada setiap kali bungkusan tidak laku. Dion berjalan di sampingku, sesekali menepuk punggungku, memberi semangat.
Hot Chapters