Cinta Palsu Suami Mafiaku
Tubuh kami saling terjerat di dalam mobil.
Suamiku terus bergerak di dalam tubuh bagian bawahku, bibirnya mencium dadaku, lalu dering ponsel tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan kami yang memabukkan.
Ariel pun menjawab tanpa ragu.
Itu salah satu teman terdekatnya dari dunia medis, berbicara dalam Bahasa Garnia.
“Ketua.” Suara itu berkata dengan santai, “Selingkuhanmu sudah hamil dua bulan. Kau mau gimana?”
Ariel tidak berhenti. Nada suaranya tetap tenang.
“Merlin nggak bisa punya anak,” jawabnya. “Aku akan biarkan Sintia mengandung bayi itu sampai lahir, lalu mengadopsinya sebagai anakku sendiri. Itu akan mengamankan posisi pewaris. Ini rahasia kita berdua.”
Sesuatu di dalam diriku membeku.
Dia lupa satu hal ....
Aku mengambil jurusan Bahasa Garnia.
Bahkan, dia mempelajari bahasa itu hanya untuk memenangkan hatiku.
Tapi aku tidak berteriak. Aku tidak mengonfrontasinya.
Sebaliknya, aku tersenyum, tetap diam, dan terus berperan sebagai istri yang sempurna.
Kemudian, aku menyelipkan surat cerai ke dalam kontrak pembelian properti dan melihat suamiku menandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu. Setelah itu aku diam-diam mendaftarkan identitas baru.
Selama tiga hari berikutnya, ketidakhadirannya, dan pesan-pesan mengejek dari wanita itu, menghapus harapan terakhir yang kumiliki tentang cinta.
Ketika identitas baruku aktif, aku pergi tanpa menoleh ke belakang.
Membawa serta anak di dalam rahimku.
Dan, menghilang dari dunianya selamanya ....