Exit
Lagi-lagi bukannya menanggapi dengan jawaban yang memuaskan pertanyaan, April malah mengangkat bahu, raut mukanya berubah seolah tidak perduli, membuatku gemas dengan tingkahnya yang diam-diam membrutalkan massa, membuat orang bertanya-tanya.
“Ada apa, sih, heh?” Aku langsung menyerbu April, beranjak dari posisi membosankan menunggui pintu, benda mati yang jelas-jelas tidak akan bisa lari kemana-kemana, memang anak itu sepertinya punya dendam kesumat padaku. Selain mengagetkan juga menyebalkan dengan memerintah yang tidak-tidak. Apa maksudnya menunggui pintu hei?
“Kamu lihat saja nanti ada apa,” ucap April tenang, menatap seakan menembus mataku.
Bab Populer