Mengembalikan Senyum Bidadari
Plak!
Sebuah tamparan melayang di pipi Pandu. Tamparan yang cukup keras, hingga mengeluarkan bekas di pipi putih Pandu. “Aku sudah berubah, Mas. Enggakkah kamu lihat bagaimana aku sekarang. Aku sudah tobat nasuhah dan enggak pernah mengulangi lagi kesalahan yang dulu. Aku sudah hijrah,” raung Rosa menatap pria yang berdiri di hadapannya. “Tolong jangan ungkit lagi dosaku yang dulu. Aku mohon.” Tangis Rosa menggema, memecah keheningan malam. Di saat sepasang suami istri seharusnya mereguk madu pernikahan, mereka justru menciptakan neraka yang membuat kamar mewah itu terasa mencekam.
“Hijrah?” tanya Pandu dingin. Pria itu tersenyum miris. Jika bukan karena ia yang memaksa, belum tentu Rosa bis