Duda Pilihan Ayah
Kanaya hanya berdiri santai di ambang sofa, tersenyum geli melihat drama kecil antara ayah dan anak itu.
Dewangga menahan tawa. Ia menatap Kai dengan serius tapi lembut. “Menurut Papa, sudah bagus kok. Tapi lain kali coba lebih dirapikan, ya? Supaya makin keren.”
Kai mengangguk cepat, puas dengan validasi dari sang ayah. Ia menoleh ke Kanaya dengan tatapan penuh kemenangan.
Kanaya terkekeh.
“Iya, iya. Maaf deh, Mama ngaku kalah,” ucapnya sambil mengangkat tangan tanda menyerah.