Budak Kesayangan Sang Tiran
“Ini aku, Xylas. Ini diriku yang sebenarnya. Aku kembali.”
Xylas tidak menunggu lebih lama. Dia berlari, meraihnya, dan memeluknya erat, seerat yang dia bisa tanpa membuatnya sesak. Wajahnya terkubur di rambutnya yang kotor dan kusut, dan dia mencium aroma gunung, debu, dan keringat. Aroma yang paling indah yang pernah dia cium.
“Aku pikir aku kehilanganmu,” bisiknya, suaranya pecah. “Ketika Lyra mengatakan kau pergi ke alam roh ... aku ... aku hampir gila.”