Cinta Pengganti
“Yang lalu, biarlah berlalu dan nggak usah lagi diingat-ingat. Yang penting itu sekarang dan masa depan.”
“Ngomong, sih, ngomong aja, Mas, tapi tangannya nggak usah gatel.” Kiya menggeser kursinya, lalu menepuk tangan Gilang yang masih menggantung di udara.
“Astaga, Ki, itu, tuh tanda sayangku sama kamu.”
“Sana kerja.” Kiya menunjuk meja kerja Gilang yang sedari tadi ditelantarkan. “Nggak usah sayang-sayangan. Ini kantor.”