Rose tidak menyangka jika seseorang yang telah menculiknya adalah Louton Vague, seorang ahli waris dari salah satu Holding Company terbaik di USA. Padahal selama ini Rose selalu melihat Louton sebagai sosok pria muda tampan yang sopan dan berwibawa. Namun, setelah tahu bagaimana perlakuan Louton padanya, kini Rose tahu bahwa ternyata Louton adalah pria misterius dan menakutkan yang berhati dingin, kejam, bahkan tak segan menyerang fisik perempuan. Meski begitu, menghabiskan waktu berhari-hari bersama Louton, paling tidak membuat Rose tahu jika ada yang salah dengan diri pria itu. Kesalahan yang mungkin saja bisa Rose perbaiki, karena Rose merasa bahwa ada sisi baik yang tersembunyi di dalam diri Louton dan entah kenapa ... itu justru membuat Rose luluh. Rose tahu apa yang dirasakannya pada Louton adalah salah. Tidak sepantasnya ia justru menaruh rasa simpati pada seseorang yang telah menculiknya. Lantas, Rose harus bagaimana? Apa setelah dirinya terbebas dari Louton, ia harus melaporkan tindakan Louton? Apa setelah dirinya terbebas dari Louton, ia bisa bertemu dengan Louton lagi agar dapat terus mengubahnya menjadi seseorang yang jauh lebih baik?
view moreDi suatu pagi, dengan langit biru muda dan sinar matahari yang tidak terlalu terik, seorang wanita berusia 27 tahun tengah sibuk menyiapkan kotak bekal makan siang.
Dengan mengenakan celemek merah muda berhiaskan bunga-bunga putih, wanita dengan rambut hitam bergelombang tergerai itu berkutat dengan pisau dan beragam lauk yang dipotongnya berbentuk hati dan aneka bentuk lainnya. Setelah selesai, ia menata lauk-lauk tersebut di atas nasi daun jeruk yang sebelumnya sudah diletakkan ke dalam kotak bekal persegi empat berukuran tanggung."Bu Dina, apa bekalnya sudah siap?" tanya seorang wanita dengan daster berwarna hijau muda dan rambut yang digulung di atas. Wanita yang memiliki kulit sawo matang itu menanti jawaban dari majikannya yang biasa disapa sebagai 'Bu Dina' itu.Lalu, sang majikan menanggapi, "Sudah, Mbak. ini tinggal dimasukin ke paper bag.""Oke, Bu. Saya bookingkan ojek onlinenya ya?" tawar wanita berkulit sawo matang itu dengan senyum kecil sembari meraih ponsel dari kantung daster yang dikenakannya."Ah, engga perlu, Mbak Ratri. Habis ini, saya antar sendiri ke kantor Bapak," tolak Dina halus dengan senyum lembut yang tersemat pada wajah tirusnya yang rupawan.Mendengar jawaban tersebut, wanita yang sudah bekerja sebagai pembantu di rumah itu cukup penasaran dengan perilaku sang nyonya rumah yang bersedia untuk mengantarkan makan siang di hari itu. Pasalnya, Dina terbilang cukup jarang jika harus mengantar makan siang ke kantor suaminya secara langsung. Wanita yang dulunya berprofesi sebagai customer service di salah satu bank swasta tersebut kini memilih untuk membuka bisnis rumahan yaitu Cake Custom yang cukup menyita waktu sehari-harinya di rumah."Bu Dina tumbenan mau antar makan siang ke kantor Bapak. Apa Ibu lagi pengen makan bareng berdua sama Bapak ya? biasanya beliau selalu fokus dengan pesanan custom cake yang engga begitu banyak. Hari ini juga ada beberapa pesanan yang harus dibuat, tapi kayanya Ibu santai banget." Wanita dengan daster hijau muda itu bertanya-tanya seraya berujar dalam hati tentang perilaku dari majikan perempuan yang sangat disegani dan dihargainya itu.-**-Dina PovAkhirnya, setelah merintis usaha sekitar satu tahun, aku bisa jauh lebih santai dalam menyeimbangkan waktu kerja dan rumah tangga. Memang, hari ini ada beberapa pesanan custom cake yang bisa saja ku tuntaskan. Namun, pesanan-pesanan itu akan diambil di minggu depan. Hal tersebut tentunya membuatku sanggup untuk mengantar makan siang untuk suami di kantor.Usai menata hidangan di dalam kotak bekal dan memasukkan kotak tersebut, aku langsung bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian dan berdandan. Rencananya, aku akan memberikan kejutan pada Reza yang dalam dua bulan ini memang kurang ku perhatikan kebutuhannya. Selain itu, aku juga terlalu sibuk untuk meluangkan waktu berduaan. Sehingga, kali ini, ku anggap aku menebus setiap waktu dan perhatian yang pernah ku lewatkan untuknya.Dengan mengenakan kardigan berwarna cream yang dipadukan dengan tanktop berwarna merah marun dan bawahan jeans gelap, aku melangkah keluar dari rumah sembari membawa kantong kain berisikan dua kotak bekal. Lalu, aku memasuki mobil putih dan mulai menyalakan mesin mobil perlahan.Beberapa menit kemudian, aku melaju meninggalkan area perumahan yang berlokasi di jalan Boulevard, Surabaya Barat. Dengan hati yang tenang berselimutkan rasa antusias, aku mengemudi dan fokus pada keramaian jalan raya di siang hari yang terpantau lancar.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang ku tumpangi, mendarat di parkir basement. Dengan santai, aku keluar dari mobil dengan membawa kantung kain berisikan kotak bekal. Melalui pintu belakang, aku menaiki tangga dan memasuki elevator yang biasa membawaku menuju lantai sepuluh, tempat ruangan suamiku yang menjabat sebagai wakil direktur berada."TING.." Elevator yang ku tumpangi bersama beberapa pegawai lainnya terbuka. Saat semua penghuni berhambur keluar, aku pun turut serta.Beberapa dari pegawai yang mengenal diriku sebagai istri dari wakil direktur di kantor menyapa. Bahkan, mereka melayangkan senyum manis sembari berbasa-basi di saat diriku melewati meja kerja mereka yang berderet dan berdekatan satu sama lain.Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan pintu ruang kerja Reza. Sembari mengulum senyum, aku bersiap untuk mengetuk pintu. Akan tetapi, niatku urung dikarenakan suara erangan dan desahan yang secara tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan."Ahh, l-liarrhh.." Suara desahan dari laki-laki yang sangat ku cintai terdengar jelas. Aku yang masih terpaku di depan pintu menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang ku dengar bukan lah suara dari Mas Reza."Suara itu sangat mirip dengan suara Mas Reza, tapi untuk apa dia mendesah begitu? apa yang dilakukan Mas Reza di dalam sana? Ah, mungkin aku salah dengar. Aku harus bertanya sendiri pada Mas Reza sebelum menarik kesimpulan," ucapku dalam hati sembari menenangkan pikiran yang mulai memunculkan asumsi negatif tanpa bukti yang jelas.Lalu, aku mulai mengetukkan buku jari tanganku pada pintu berwarna coklat tua di hadapanku perlahan, "TTOOKK..TOOKK..TOOKK..""Masuk, pintunya engga dikunci." Suara tenor milik Mas Reza berujar dari dalam."CKLEEKK.." Aku memutar knop pintu yang bergaya interior modern dengan kunci kuningan emas dan cover hitam berdesain minimalis.Saat pintu terbuka, aku melihat sosok suami yang sangat ku hormati kini sedang duduk di balik meja kerja dengan senyum mengembang sembari melempar tatapan hangat pada diriku. "Eh, tumben kamu ke kantor, Din," ucapnya seraya mengembangkan senyum dan bangkit berdiri dari kursi kerja kesayangannya.Aku memasuki ruangan dan menutup pintu perlahan sambil menanggapi, "Aku mau ajakin kamu makan siang bareng, Mas. Kebetulan, tadi, aku masakin menu kesukaan kamu."Mas Reza pun dengan segera meraih tangan kiriku dan menuntunku untuk duduk di sofa yang berada di depan meja kerja. "Wah, kamu bisa baca pikiranku ya, Din. Udah lama banget aku pengen makan masakan kamu," tandasnya sembari mengusap punggung tanganku dan menciumnya lembut.Mendapat perlakuan dan respon seperti itu membuat hati ini menghangat dan merasa sangat bersyukur. Aku yang notabene cukup sibuk dan jarang meluangkan waktu untuk suami sebaik Mas Reza masih diberi kesempatan untuk mengecap nikmatnya kesetiaan serta tanggung jawab dari seorang suami dan harmonisnya rumah tangga yang sedang berjalan.Dalam kata lain, aku merasa sangat beruntung karena telah menerima Mas Reza sebagai partner hidup yang selalu mendukung serta mengarahkanku menjadi pribadi yang baik. Meski kami belum dikaruniai buah hati, kami tetap menjaga kehangatan dan komunikasi dalam rumah tangga di tengah kesibukan-kesibukan yang menerjang. Setiap harinya, aku terus berharap jika bahtera rumah tangga yang ku arungi bersama Mas Reza semakin manis meski waktu bermesraan di antara kami terbatas."Din? Dina??" Suara tenor milik Mas Reza memanggil namaku perlahan.Aku yang tenggelam dalam pikiran sendiri tersadar dan mulai menatap wajah tirus suamiku dan menanggapi, "Eh, iya Mas? Ada apa?""Kita jadi makan 'kan? kamu lagi mikirin apa sih? Kok bengong gitu.""A-anu, aku kepikiran soal kamu, Mas." Aku menanggapi dengan tergagap sembari melepas kaitan tangan Mas Reza dan mulai mengeluarkan dua kotak bekal beserta dua pasang peralatan makan yang ku siapkan dari rumah."Ada apa, hm?" Mas Reza kembali bertanya sembari melayangkan usapan lembut pada kepalaku, usapan yang selalu sukses membuat jantungku berdebar-debar layaknya mengikuti kegiatan lari marathon."Aku merasa bersalah aja sama Mas belakangan. Aku jarang ada waktu buat Mas dan lebih belain ngurus usaha." Aku berterus terang pada Mas Reza dengan tangan yang kini membuka penutup kotak bekal dan menyerahkan kotak tersebut padanya.Mas Reza menerima kotak bekal dari tanganku dan menanggapi, "Udah, Din. Kamu engga usah terlalu mikirin yang udah lalu. Mas ngertiin kondisimu kok.""Iya, aku paham, Mas. Aku cuman takut kalau Mas merasa kesepian dan cari hiburan di luar sana waktu aku sibuk." Aku kembali mengutarakan isi hati yang sempat bersemayam seminggu lalu. Isi hatiku itu bahkan sempat membuatku berimajinasi jika Mas Reza berselingkuh di saat aku tak bisa menemaninya di hari libur.Usai diriku berujar secara gamblang, Mas Reza menatapku lekat. Kedua manik mata coklat yang menjadi daya tarik pria berusia tiga puluh tahunan itu kembali membius hati yang selalu mengobarkan rasa padanya.TO BE CONTINUED.“Aku tidak memintamu untuk ke sini,” ujar Louton dengan suara serak dan dingin. “Aku memintamu untuk menungguku di dalam kamar,” lanjutnya tanpa berniat bertatapan denganku sebagai satu-satunya lawan bicaranya.Sayangnya, apa yang dikatakannya itu tidak mampu membuatku berhenti mendekat."Aku tahu dan aku sudah menunggumu, tapi kau tidak kunjung datang.""Apa kau tidak paham dengan maksud dari kata menunggu?"Louton mengangkat wajahnya. Entah memang wajahnya yang memerah atau cahaya remang-remang lampu ruang anggur yang tanpa sengaja terserap ke dalam wajahnya, yang pasti wajahnya itu terlihat seperti bara api akibat pembakaran kayu, batu bara, atau bahan karbon lainnya. Menjadikannya tampak panas.Lou
Aku memikirkan ibuku. Tidak mungkin tidak. Aku juga tidak yakin ibu memutuskan untuk diam saja. Bahkan mungkin sekarang ia sedang berada di kantor Berkeley Police Department untuk melaporkan bahwa aku akhirnya memberi kabar setelah tujuh hari menghilang.Tujuh hari. Aku sendiri pun tidak sadar sudah selama itu aku berada di sini.Di tengah lamunanku, seseorang mengetuk pelan pintu kamar Louton. Aku segera bangun dari posisi merebahkan tubuh di atas tempat tidur."Miss Johnson?" panggil Mags."Aku di dalam, Mags."Pintu terbuka. Sosok Mags yang tersenyum kembali tampak usai selama beberapa jam ini sibuk menjamu tamu, yaitu seorang Mia Evans."Anda pasti sudah lapar," uj
Lagi-lagi ibu berhasil menebaknya. Apa memang sekuat itu insting yang dimiliki seorang ibu?Tanpa sadar aku berputar dan mataku menangkap sosok Louton berdiri di pintu kaca yang terbuka. Apa ia sudah sejak tadi ada di sana? Mendengarku menelepon? Ketika sekalinya telingaku menemukan kembali suara ibu, aku langsung lupa akan apa yang terjadi sebelumnya di sini. Termasuk Louton. Aku tidak ingat jika ia akan datang ke kamarnya untuk berganti pakaian dan setelahnya akan menemui Mia Evans di bawah sana."Rose?" tanya ibu menagih jawaban.Sial. Abaikan dulu Louton, aku harus segera memberi jawaban yang aman pada ibu."Seseorang? Umm, yah, kurang lebih bisa dikatakan seperti itu. Terkadang aku bersama seseorang dan terkadang juga
Aku tidak tenang. Sungguh tidak tenang. Sedari tadi yang kulakukan hanyalah mondar-mandir di kamar Louton sembari menggigiti kuku ibu jari. Hati ini begitu gelisah. Rasanya ingin segera keluar kamar, turun ke lantai bawah, dan melihat langsung apa yang sedang terjadi. Terlebih jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Memberi pertanda bahwa Louton akan segera datang.Mags juga tampaknya tidak ada niatan naik ke atas untuk mengunjungiku. Sekadar mengecek keadaanku—mungkin—sekaligus mengatakan bahwa ia tetap mempercayaiku dan tetap menaruh harapan padaku untuk memperbaiki Louton.Memikirkan kemungkinan jika Mags langsung berubah pikiran setelah bertemu dengan Mia Evans, benar-benar membuat hatiku semakin tidak tenang."Oke, Rose," kataku menarik napas, kemudian mengembuskan perlahan. "Mungkin kau bisa
"Ke-kenapa?" tanyaku mendongak melihat Vince yang berdiri menjulang."Mags, tolong bawa pergi Miss Johnson," perintah Vince sambil meletakkan ponselnya di telinga. Wajahnya tegang, tapi gerak-geriknya terlihat tenang. Kelihatannya Vince sudah berpengalaman menghadapi sesuatu yang membuatnya terkejut."Kau tidak mau memberi tahu terlebih dahulu ada apa sebenarnya?" tanya Mags sama bingungnya denganku."Selamat siang, Mr. Vague," ujar Vince tiba-tiba. Aku menoleh pada Mags yang juga kedapatan sedang membalas tatapanku. "Maaf telah mengganggu waktu Anda. Ada sebuah mobil yang menunggu di depan pintu gerbang rumah Anda. Dikendarai oleh seorang wanita. Akan segera saya kirimkan pada Anda detailnya."Vince merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan ponsel.
"Mags, ini …," aku mencoba mencari kata yang tepat untuk merepresentasikan masakan Mags, "ini benar-benar enak. Terima kasih banyak."Sebenarnya aku kurang puas dengan ucapanku, tapi memang tidak ada kata lain yang bisa kulontarkan lagi. Setidaknya itu lebih baik dibanding dengan hanya diam saja seperti Vince, padahal ia juga telah menyapu bersih makanan yang ada di atas piring. Namun, tidak ada niatan untuk merespons berupa pujian atau semacamnya. Lelaki ini benar-benar kaku seperti robot. Walau begitu, sepertinya Mags sudah terbiasa."Senang melihat Anda makan dengan lahap," ujar Mags yang sudah ikut duduk di dekatku. "Setidaknya dengan adanya Anda di sini, saya jadi tahu jika masakan saya cukup baik."Aku dan Mags saling melempar senyum. Sekilas melirik pada Vince yang sedang menyesap secangkir kopi&
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Comments