Se connecterSofia is an editor known for her discipline and closed-off heart. Theo, the bestselling romance novelist she’s assigned to, is charming, intuitive, and dangerously flirtatious. As they revise scenes together late at night, the tension between them grows—blurring the line between fiction and real desire.
Voir plusRevisi (18-09-2021)
Di sekolah yang dipenuhi oleh para bangsawan dan warga terpilih, mereka semua sedang dalam waktu makan siang.
Lalu ketika Alex ke luar dari kelas, Lira menghampirinya. "Permisi Alex, ada yang ingin aku bicarakan," Lira terlihat gugup.
"Apa kamu tidak tahu ini sedang jam makan siang, bisakah kamu tidak menggangguku?" Alex risih.
Yuna yang baru saja ke luar dari kelas dan mendengar percakapan mereka, Yuna pun marah kepada Alex. Yuna menghampiri Alex. "Alex kenapa kamu berbicara dingin begitu? Dia kan hanya ingin mengajakmu berbicara," Yuna mencubit pipi Alex.
Alex menepis tangan Yuna. "Hei lepaskan, itu sakit. Hanya berbicara sajakan, baiklah akan aku layani dia," lalu Alex berdiri kembali di hadapan Sora.
"Jadi cepat katakan apa yang kamu ingin bicarakan, aku sudah lapar sekarang ini," jawab Alex yang terpaksa.
Perempuan itu awalnya ragu untuk berbicara, namun dia mulai membuka mulutnya dan berkata. "Maukah kamu datang pesta minum teh di rumahku?" Lira memberikan surat undangan kepada Alex.
"Ha?" ujar Alex.
"Tentu saja nanti akan ada teman sekelas yang lain, yang juga ikut bergabung, jadi Alex tidak perlu malu untuk dat--" Alex memotong pembicaraan.
"Omong kosong apa yang dari tadi kamu katakan? Aku malu? Hah jangan bercanda! Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakannya kepada kalian semua. Aku tidak akan pernah menerima undangan kalian. Aku tidak akan mau melakukan sesuatu yang merepotkan," Alex menggenggam tangan Lira dan mengembalikan surat undangan miliknya.
"Hei Alex kamu kenapa seperti itu.. uah tunggu kita mau ke mana?" Alex menarik tangan Yuna "Ayo Yuna, kita pergi dari sini," Alex membawa Alex menjauh dari sana. Karena Yuna merasa Alex telah keterlaluan, dia menyatukan tangannya dan menghadap ke belakang. Yuna mengisyaratkan minta maaf kepada Sora.
Raut sedih terlihat di wajah Lira. Melihat kejadian itu orang orang mulai membicarakannya.
"Alex itu memang pantas diberi julukan pangeran es. Tega sekali dia berkata seperti itu kepada seorang perempuan," ujar murid A.
"Benar Alex itu memang orang yang dingin. Padahal dia bisa menolaknya dengan baik, tapi dia malah menolaknya dengan kasar," ujar murid B.
Alex yang mendengar percakapan mereka, menatap tajam ke arah mereka. Murid murid yang membicarakannya langsung terdiam. "Geh! Dia melihat ke sini! Pura pura tidak tahu saja," mereka memalingkan wajah.
Namun karena sudah lapar, Alex menghiraukan mereka. "Hah untunglah dia tidak menghampiri kita," mereka lega.
"Kamu benar, tapi mau sedingin apa pun Alex, dia tetap mau menuruti kata Yuna," ujar murid B.
"Mau bagaimana lagi, Yuna itukan adalah teman masa kecilnya. Bahkan aku sedikit heran kenapa Yuna masih betah berada di sampingnya," ujar murid A.
Alex lalu pergi ke pondok kecil yang berada di taman belakang sekolah sambil menggandeng tangan Yuna. "Kita makan di sini saja bagaimana?" tanya Alex.
"Hah? I iya terserah kamu saja," Yuna gugup karena tangannya masih digenggam Alex. Lalu Alex melepaskan genggamannya dan membersihkan bangku dan meja untuk tempat mereka makan.
Mereka pun makan siang bersama di sana. Di selang makan siang, Yuna pun bertanya kepada Alex. "Kamu tahu Alex, seharusnya kamu menerima undangan Lira," ujar Yuna.
"Ha?! Kenapa aku harus melakukan itu? Kamu tahukan aku tidak suka hal yang merepotkan seperti itu," jawab Alex dengan tegas.
"Tapi bisa saja nanti namamu yang sudah buruk, malah bertambah buruk lagi," Yuna memperingati Alex.
"Biarkan saja, hanya namaku saja yang buruk. Setidaknya aku masih mempunyai teman yang selalu berada di sampingku," ujar Alex.
"Hoho... Boleh aku tahu siapa orangnya itu?" Yuna menggoda Alex.
Alex lalu menjadi malu dan gugup. "Ha.. hm.. tentu saja itu dirimu, siapa lagi yang aku maksud," Alex malu.
Ah.. imutnya reaksinya itu, aku akan simpan hal ini untuk diriku sendiri. Pikir Yuna.
"Wah kamu sudah pandai menggombal ya Alex... Kamu belajar dari siapa? Ayahmu? Atau temanmu?" tanya Yuna.
"Hei kamu meledekku, lagi pula tadi itu bukan gombalan. Tapi aku bisa saja membuat jantungmu berdetak dengan kencang sekarang ini~" Alex tersenyum.
He? Apa maksudnya ini? Apa dia berniat menggodaku? Coba saja jika memang bisa...
"Huh.. coba saja sini," Yuna yang menantang Alex, entah mengapa dia menjadi gugup sendiri.
Alex yang merasa dirinya tertantang, mulai menjulurkan tangannya. Lalu menyentuh dan mengelus pipi Yuna. Mata mereka saling bertemu ditambah Alex yang tersenyum, membuat Yuna yang disentuh semakin merasa gelisah. Nafas dan detak jantung Yuna menjadi tidak beraturan. Alex yang melihat Yuna masih bertahan, dia lalu membelai rambut Yuna.
Yuna yang tidak tahan wajahnya pun akhirnya menjadi memerah. Karena malunya dia menutup wajahnya menggunakan tangannya. "Hei sudahlah hentikan itu..." ujar Yuna yang lemas.
Lalu Alex mundur dan duduk kembali. "Haha maafkan aku, bagaimana? Wajahmu memerahkan?" Alex menggoda Yuna.
"Dari siapa kamu mempelajari hal ini? Apakah kamu mulai berubah menjadi cowok yang nakal?" tanya Yuna.
"Hoi, jangan bikin orang lain nanti salah paham ya. Aku hanya menguji cara ini yang aku dapatkan dari novel romansa. Pada awalnya aku tidak percaya, tapi ternyata berhasil, hingga membuat wajahmu merah merona," Alex dia terkadang mengisi waktu luang untuk membaca.
Yuna semakin menjadi malu karena Alex mengatakan hal itu. "Tapi tidak biasanya kamu membaca novel romansa, biasanya novel fantasi. Dan juga apa itu artinya kamu menjadikan aku sebagai objek eksperimen?"
"Yang pertama aku hanya ingin mencoba saja. Yang kedua kamu benar aku jadikan sebagai objek eksperimen," ujar Alex.
"Haha teman sialan. Ah sudahlah, besok kamu ingin ikut tidak ke ibu kota?" tanya Yuna.
"Hm kamu ingin melakukan apa di sana?" tanya Alex.
"Tidak ada hanya jalan jalan saja. Dan aku berniat mengajakmu berdua saja ke sana," ujar Yuna.
"Berdua? Jika berdua saja aku ingin ikut," jawab Alex.
"Hm hoho, kamu mau curi curi kesempatan di sana denganku ya?" Yuna curiga.
"Bukan putri Yuna Lavender... Aku ingin ke sana, karena aku dengar ada banyak hal baru di sana. Maka dari itu membuatku penasaran,"
"Hm begitu ya.. sayang sekali, padahal kamu senang berdua denganku saja.." gumam Yuna.
"Hah apa?"
"Tidak tidak ada apa apa kok," Yuna melihat sekelilingnya. Dia melihat tidak ada seorang pun yang melewati tempat yang mereka tempati.
Lalu dia berkata kepada Alex. "Hei Alex, apakah kamu tidak merasa di sini terlalu sepi? Tidak ada seorang pun yang lewat di sini," ujar Yuna.
"Yah itu maka karena itu, aku memilih tempat ini karena sepi dan tenang,"
Yuna pun berpikir untuk sedikit menggoda Alex dengan kata katanya. "Hm apakah benar tujuannya hanya itu saja? Kamu tahu biasanya ya, di tempat yang sepi seperti ini, apa lagi ada sepasang laki-laki dan perempuan. Biasanya mereka akan curi curi kesem.." Buk! Alex memukul kepala Yuna. "Aduh!"
"Jangan bicara yang aneh aneh ya, habiskan saja bekalmu itu," ujar Alex.
"Iya iya," Yuna cemberut.
Lalu ketika bekal makan siang mereka telah habis, mereka segera kembali ke kelas. Di perjalanan mereka menjadi pusat perhatian, walau tidak merasa nyaman, Yuna sudah terbiasa dengan situasinya.
He really wanted to say sorry but seems like he’s apologising what happened yesterday, which he doesn’t feel sorry at all. He liked it, and he would like to do it again if there will be a chance or if she let him.May mainit na tensyon sa kanilang dalawa at alam nilang parehas nilang nararamdaman iyon. Sadya nga bang trabaho lang ang kanilang gagawin dahil sa pakiramdam ni Sofia ay hindi.“Let’s start?” Anyaya ni Sofia na ngayon ay nakatungaw na sa bintana at inilalabas ang kaniyang mga gamit.Sadya nga namang nakakakalma ang panahon at tanawin sa labas ng bintana ng study room ni Theo. Kaya siguro marahil nakakasulat siya ng mga magagandang libro ay dahil dito.Naupo si Theo sa tabi ni Sofia, hindi ganoon kalayuan dahil na rin sa hindi naman ganoon kalaki ang study room. Ngunit mayroong sapat na espasyo para hindi sila magkatungo ng mga balikat.Kinuha ni Theo ang nakasarang laptop sa bookshelf at inumpisahan na nila ang pag-edit.Bumaba ang tingin ko sa mga labi niya. Hindi ko noon
Araw ng Sabado, natagpuan na lamang ni Sofia ang sarili sa address na nilagay ni Theo sa contact information niya. Nakita niya ang isang malaking gate at sa likod niyon ay may tila mansyon sa hindi kalayuan. Hindi naman nagtaka si Sofia na maaaring ganitong buhay ang madatnan niya. Kita naman sa mukha at pananamit ni Theo na galing siya sa isang mayamang pamilya.Pagkababa niya sa sasakyan ay pinindot niya ang doorbell. Hindi niya alam kung anong mararamdaman niya matapos nang nangyare kahapon. Nagdadalawang isip nga siya na tuparin ang napagkasunduan nilang schedule dahil sa nangyare ngunit ayaw naman niyang maging unprofessional sa bagay na gustung-gusto niyang gawin. Kaya kahit butil butil ang pawis niya at nilalamig ang kamay sa sobrang kaba, nilakasan niya ang loob at pinuntahan si Theo. Kailangan na rin naman nilang matapos at nakatakda na ilabas sa katapusan ng taon.“Nandito ako bilang editor niya. Nothing more, nothing less.” Bulong ni Sofia sa sarili.Namataan niya ang isang
Pumaling ng tingin si Lucas sa lalaking nakaupo sa harap ni Sofia at inabot ang kamay nito.Siya namang tumayo si Theo at inabot din ang kamay nito para makipagkamay. Nagulat si Lucas sa tangkad ni Theo dahil hanggang balikat lamang siya nito.“How are you?” Balik composure naman si Lucas. “I’m Lucas.”“Thanks, I’m fine. Yourself?” Sagot ni Theo, balik tanong kay Lucas na ngayon at seryoso ang mukha.“Same.” Tipid na sagot nito. Bumaling agad ito kay Sofia at ibinalik ang masayang ngiti sa labi. “Hey, Sofia, do you have free time on Saturday? May gathering kasi sa side ng father ko. I was hoping you can come with me?” Matamis nitong sabi.Biglang tumikhim nang malamim si Theo at tinitigan ng masama si Sofia. Don’t you dare.Napalunok naman ng wala sa oras si Sofia at naalala ang kaninang napag-usapan nila ni Theo. Kahit pa man wala pang opisyal na sagot ang Unle George niya ay sigurado naman siyang papayag ito. Isa pa ay maganda ang ganoong schedule sa kaniya upang matagal siya sa Bul
Pagkatapos ng tanghalian ang schedule na sinabi ni Sofia kay Theo para sa editing process ng kaniyang libro. Saktong oras naman na iyon ay dumating si Theo at pinuntahan ng kusa sa opisina nito nang malaman sa Receptionist kahit pa sinabi nito na pumunta na sa conference room.Kumatok si Theo sa pintuan ng opisina ni Sofia.”Come in.” Sagot ni Sofia.Pumasok si Theo na may matamis na ngiting ibinungad sa dalaga. “Sofia”. Sabi nito.Tumango naman si Sofia dahil na rin sa gulat. Sinabi niya kay Marie na dalin diretso si Theo sa conference room at intayin na lamang siya doon dahil may tinatapos pa siya.“Oh, Theo. Sinabi ko sa receptionist na sa conference ka na dumiretso. May kailangan lang akong tapusin sandali”.Sumimangot naman ang binata at naupo sa bakanteng upuan sa harap ng lamesa ni Sofia. Nangalumbaba ito at tinitigang maiigi ang dalaga.Bumuntong hininga naman si Sofia at ibinaba ang ballpen na hawak.“What?” Tanong ni Sofia na sumandal na sa kaniyang office chair.“Aren’t you






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
commentaires