ANMELDENSingkat waktu setelah tiba di Jakarta, Roni dan Bara ditanyai langsung oleh Mbak Maya hasil pembicaraan mereka dengan Tuan Kim.“Gimana hasilnya, apa semua lancar?” tanya Mbak Maya.“Iya, begitulah. Bara beritahu mamamu, papa capek sekali, sepertinya papa butuh istirahat dulu,” kata Roni, meminta Bara untuk memberitahu mamanya hasilnya. Roni mengecup kening Mbak Maya lalu masuk ke dalam rumah.“Eh, ada Sera. Nenek gak tahu kalau kamu juga ikut pulang,” kata Mbak Maya saat melihat Sera juga turun dari mobil.“Iya nih, Nek, sera di ajak papa. Nenek apa kabar? Pengen ketemu paman kecil, paman kecil dimana?” balas Sera, dan yang dimaksud Sera ialah Arga.“Ada tuh di dalam, ayo masuk saja lagi sama Bibi Lia,” jawab Mbak Maya. Sera pun langsung masuk ke dalam untuk menemui Lia dan Arga, karena sudah biasa juga di rumah itu jadi dia gak malu-malu.“Bara, gimana hasilnya, apa ada keputusan?” Mbak Maya mulai bertanya serius ke putranya mengenai hasil pertemuannya dengan Tuan Kim. Bara pun menj
“Saran kamu memang bagus, Roni,” ucap Tuan Kim, “tapi maaf, aku hanya ingin melihat cucuku menikah di saat-saat terakhirku. Kondisiku semakin hari semakin memburuk, aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Aku akan merasa jauh lebih tenang jika melihat dia sudah menikah sebelum aku pergi. Jadi seperti yang kubilang tadi, kalau Bara tak setuju menikahinya, maka aku terpaksa harus menikahkannya dengan rekan bisnisku,” lanjutnya, memberi pilihan kepada Roni dan Bara.“Apakah Anda meragukan saya?” tanya Roni.“Tidak,” jawab Tuan Kim pelan, “aku sama sekali tak pernah meragukanmu. Tapi keinginanku memang hanya itu saja.”Bara yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.“Baik, aku setuju menikahi Sera,” ujarnya.Ia sadar, tak ada pilihan lain. Dalam pikirannya, hanya itu jalan keluarnya. Setelah menikahi sera nanti Tuan Kim bisa merasa tenang di akhir hidup. Setelah itu, Bara bisa menceraikan Sera dan membiarkannya memilih pasangan hidupnya sendiri. Jadi bisa dibilang, Bara menikahi Sera
Setelah membicarakan soal masalah itu, Roni sebelum berangkat ke Surabaya memutuskan untuk pulang dulu dengan diikuti oleh Mbak Maya, sementara Meli masih tinggal untuk melepas rindu kepada anak-anak itu. Roni dan Mbak Maya memberikannya waktu untuk itu.Sesampainya di rumah, Ali yang sudah menunggu kedatangan papanya berdiri di depan pintu saat melihat mobil yang ditumpangi papanya memasuki halaman rumah.Saat papanya keluar dari mobil, Ali seketika berlari menghampirinya.“Papa...” peluknya erat untuk melepas rindu.“Eh sayang, kamu kapan tibanya?” tanya Roni.“Kemarin, Pa. Astaga, Ali begitu rindu sama Papa. Papa baik-baik saja kan? Maafkan Ali, Ali gak di rumah saat Papa kembali,” ucap Ali tanpa melepaskan pelukannya.“Iya, tidak mengapa sayang. Bagaimana dengan kuliahmu, semua lancar kan?” tanya Roni.“Iya, Pa. Seperti yang Mama dan Papa harapkan, Ali senang sekali Papa ternyata selamat. Ali setiap hari selalu memikirkan Papa, Ali tidak sanggup kehilangan Papa,” katanya sambil me
Bara, ikut mama, mama mau ngomong sebentar denganmu," tiba-tiba Mbak Maya keluar dan menemui Bara yang sedang menggendong bayinya di halaman rumah."Baik, Ma," Bara pun mengikuti mamanya masuk."Ada apa, Ma? Sepertinya serius sekali?" tanya Bara, sebab ini adalah kali pertama mamanya ingin berbicara serius dengannya lagi setelah beberapa waktu lalu dia sempat mengecewakan mama karena gagal menangani perusahaan."Ini soal Sera," kata Mbak Maya."Sera? Ada apa dengan Sera?" tanya Bara. Sudah lama rasanya dia tidak membicarakan Sera lagi, dan tiba-tiba mamanya membahas soal Sera sekarang."Beberapa waktu lalu mama pergi menemui Sera di Surabaya, dan mama berbicara dengan kakeknya. Di sana mama membicarakan sesuatu yang serius tentang masa depan Sera. Mungkin ini sangat berat bagimu, tapi mama tidak punya pilihan juga. Jadi mama ingin tahu pendapatmu dan keputusanmu saja," ujar Mbak Maya."Maksud Mama? Bara belum mengerti apa yang Mama bicarakan, bukankah sera sendirinjuga setuju tinggal
Tepat di saat Bara sudah menyiapkan semuanya untuk ikut berangkat bersama papanya, Mbak Maya melihatnya."Hai Bara, kamu mau ke mana?" tanya Mbak Maya."Ini, Ma, aku mau ikut sama Papa menjemput anak-anak," jawab Bara."Tidak usah, kamu nggak usah ikut. Kalau kamu pergi siapa laki-laki di rumah ini? Kalau ada apa-apa gimana?" kata mamanya langsung melarangnya buat ikut."Tapi, Ma, kan cuma sebentar. Lagian kan Ali bakalan pulang," kata Bara."Bara, sudah berapa kali Mama harus nasehatin kamu, kamu belum juga mengerti. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Iya, Mama tahu Ali bakalan pulang, tapi masa kamu mengharapkan adik kamu. Ali pulang itu buat istirahat. Kamu lupa tugas kamu apa? Mama sudah katakan berapa kali, kalau Papa kamu nggak ada, kamulah yang menggantikan Papa kamu di keluarga ini. Kalau kamu ikut pergi siapa yang ngurus perusahaan sementara Papa kamu pergi? Harapin Maria? Ingat, Maria menantu di keluarga kita. Pokoknya kamu nggak usah ikut, tetap di sini. Kalau ada apa-apa b
Roni pun memulainya kembali, dan kali ini dia tak lagi menahan diri. Seketika suara-suara di kamar mandi itu menjadi sangat berisik, terutama erangan Ayu yang tak terkendali. Tubuhnya bergetar hebat karena Roni benar-benar bersemangat sekali."Bang, kaki Ayu terasa pegal," kata Ayu karena dia merasa lemas, membuat kakinya tak tahan buat berdiri lagi.Roni berhenti sebentar, dia menoleh ke arah bak mandi. Di sana dia pun menggendong Ayu ke sana dan mereka lanjut di sana. Ayu benar-benar tak menyangka dengan stamina Roni yang begitu kuat, tak seperti biasanya. Iya, mungkin ini terjadi karena kebiasaan Roni yang hidup di hutan yang keras, di mana setiap hari harus pergi berburu dan sebagainya.Bukan hanya Ayu, Mbak Maya pun juga merasakan kalau stamina Roni benar-benar jauh berbeda. Lihat saja wajah Ayu sampai-sampai dibuat merah muda dengan dirinya yang terus-terusan menggigit bibirnya sendiri disebabkan oleh apa yang dirasakannya.Sementara di kamar sebelah, terdengar suara jeritan Lol
"Xyro, sialan! Lepasin... aku masih banyak kerjaan," bentak Maria saat Xyro mencoba menciumnya."Ayolah, nggak lihat ini lagi kepengen, tuh. Nanti dilanjutin kerjanya, ayo sebentar aja," kata Xyro sambil menarik tangan Maria dan meletakkannya ke tempat yang tidak seharusnya."Matamu sebentar! Bisa-
Sementara Sasa, dia sedang bersama James. Saking fokusnya belajar, dia tidak menyadari kalau siswa-siswi di dalam perpustakaan itu sudah mulai keluar, menyisakan dia dan James saja di sana. Merasa situasinya tepat dan melihat teman-teman kampus sudah pada keluar, James mulai melakukan aksinya. Iya,
Bukannya menjauh, Xyro justru semakin mendekat, membuat jantung Maria berdetak semakin kencang. Apalagi tatapan Xyro ke arahnya kini berbeda—seperti tatapan yang siap menerkam. Bagaimana tidak? Maria, secantik dan semulus itu, kini berdiri tanpa mengenakan apa pun di hadapannya. Dan seperti yang ki
"Ali... ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," terlihat Xyro datang menemui Ali yang sedang berada di depan kolam renang yang ada di belakang apartemen mereka.Ali menutup buku yang dia pegang lalu menatap ke arah adiknya itu, "Iya, katakan ada apa Xyro?" tanya Ali."Ali, ee... aku ingin memberitah







