로그인Naimah terkejut setelah pulang dari luar negeri selama lima tahun, dia mendapati fakta bahwa Larsono, suaminya menikah lagi dengan Titin setelah mengajukan cerai ghaib. Bahkan Larsono juga merebut hak asuh Danang, anak Naimah dan Larsono satu-satunya. Naimah yang tidak tinggal diam segera mencari pengacara untuk mengurus harta gono-gini dan merebut hak asuh Danang dari mantan suaminya. Sementara itu Larsono harus menerima kenyataan pahit, bahwa anak dalam kandungan Titin, adik ipar yang sekarang menjadi istrinya bukan lah anak kandungnya. Pembalasan dimulai dan Larsono serta Titin pun jatuh bangkrut karena rencana Naimah.
더 보기Chapter 1
My Brother's Bestfriend
CEE CEE ✍️ 😎
Right City, Wrong house
~Zarah~
"This place is... wow," I muttered as we entered the house, it had floor to ceiling windows, a fireplace and....well, it was perfect.
But something felt slightly off.
"So... how did you know about this place?" I asked Alex, who sat on the couch while I walked towards the window and stared down at the view of Las Vegas .
"Well, this is one of Ethan's properties," he chuckled. I nodded, then paused.
My stomach dropped. What?
"He knows we're here. I have the spare keys to the building. I mean, why lodge in an hotel when my friend has all this?" Alex said, glancing at me putting on the I don't care face.
"This is Ethan's house?" I asked slowly. He turned around fully, raising a brow at me.
"Yeah, it's his." His voice was quiet yet filled with curiosity. "What's wrong? You don't like it here?”
I pinched the bridge of my nose, disbelief washing over me. The fuck?
"I can't believe you brought me to Ethan's house of all places," I muttered. For God's sake, He knows what his friend was like and still he went ahead and brought me to his house?
Alex sat up straighter, his frown falling.
Zarah, your feud with my friend is seriously getting ridiculous."
"Oh, really? You think this is ridiculous?" I snapped, crossing my arms. "Have you forgotten the time we both landed in a big mess and he bailed you out, putting the blame on me and leaving me leaving me there to rot?"
Alex opened his mouth to speak, but I cut him off. "Or the time we crashed his car, and guess who got blamed for that? Me! He called me a bad bitch and a destroyer of things, told me to stop following you to his place 'bad things.' He acts like I'm the villain in your life." I gritted my teeth.
"zar..." Alex trailed off.
"And now you bring me to his house? You really think I won't get blamed for this too?" I asked. If I had known, I wouldn't have followed him.
Okay maybe, I still would have. I mean who would turn down a trip to Las Vegas? But we would have booked a hotel room.
Not here. Not this.
Alex stood up and turned around the couch, walking towards me.
"I'm wrong and I'm really sorry. I didn't think. I just wanted you to enjoy your first trip without our parents, and this house is... well, it's perfect." He gestured around the house, but I barely glanced at it. "I should have talked to you about it. You're right."
I let out a sigh.
"What next?" I asked and him shoulders sagged.
"Well, we could still stay here.. So..." He wriggled his fingers on my shoulder.
"We could still leave if you want," he added.
"If he won't tell at me here we could stay," I muttered. Well, he wouldn't just pop up in last Vegas now, would he?
Alex grinned, and I could see the relief on his face.
"We're not gonna stay inside all day now or are we?" He asked, a glint in his eyes. I pursed my lips.
"Please tell me we're going to see Grand canyon west," He added as he grabbed my hand, and he nodded a little too fast.
"Of course! We would," I muttered as we dragged our luggage to the room where we would be staying.
Despite all that Alex had said, I still felt slightly uncomfortable. Knowing the house belonged to Ethan just didn't sit right with me.
And hell, I knew something was bound to go wrong. Wherever the man was concerned, something always went wrong.
After freshening up, we decided to explore the neighborhood. At least, we should familiarize ourselves with the vicinity since we'd be staying for a month.
"Tomorrow, we'll go see the Tower , yeah?" Alex asked as we walked back after wandering through a few blocks.
I gave a small nod.
Alex sighed and tipped her head back, feeling the cool evening breeze wash over his face, he closed his eyes, a small smile playing on his face.
"It's nice to breathe fresh air outside of Las Vegas ," he sighed. I glanced over at him and followed his lead, raising my head and staring at the dark sky.
Alex suddenly opened his eyes, and stared at me. I could see the mischievous glint in them.
"The first one back to the house gets a paid Dried aged steak and champagne at the fanciest restaurant in the city!" he said, and before I could process what he said, he darted off.
A laugh escaped me as I ran after him. But oh boy, the guy was goddamn fast.
Who knows? Maybe I would enjoy this trip after all.
We stumbled into the compound and Alex pushed the door open stepping in.
I followed after him but he stopped abruptly that I crashed into his back.
"What's it?" I whispered as the color drained from his face.
He remained silent and I peeked at the inside from over his shoulder.
And there he was, in the living room, swirling a glass of something dark. Whiskey maybe.
His eyes were cold and his expression closed off as he finished the last of his drink, slamming the glass on the table.
I was surprised it didn't shatter. Alex shuddered lightly while a small frown crept up my face.
Ethan.
The devil had arrived.
Titin baru saja menidurkan Febi saat terdengar ponsel nya berdering nyaring. Titin menghela nafas panjang dengan cepat meraih ponselnya yang berdering diatas kasur. Khawatir Febi akan terbangun. Perempuan beranak satu itu berdecak kesal saat melihat siapa yang menelepon nya. Titin segera keluar dari kamarnya untuk menerima telepon dari Dimas."Heh, ada apa lagi kamu, Dim? Kamu jangan harap bisa pulang sebelum kamu bekerja!" seru Titin dengan kesal. "Selamat pagi, Bu. Kami dari pihak kepolisian. Kami mengabarkan bahwa pak Dimas, suami ibu ditangkap oleh polisi karena menabrak seorang gelandangan hingga tewas. Untuk proses penyelidikan, pak Dimas bisa didampingi oleh pengacara. Dan sampai persidangan, pak Dimas akan ditahan terlebih dahulu.Kami menelepon ibu karena pak Dimas tertangkap dalam kondisi mabuk dan sekarang tidak sadarkan diri. Saat kami periksa, kontak nama ibu ada di dalam panggilan masuk ke ponsel pak Dimas beberapa kali.""Oh, Dimas ditahan ya? Tahan saja pak polisi!
Larsono membuka mata dan terkejut saat salah seorang anggota tahanan di selnya menusuk perut Larsono dengan ujung sikat gigi yang sudah ditajamkan. Darah segar mengucur dari lukanya itu.Larsono berteriak lagi. Tapi dua orang tahanan yang berada di satu sel dengannya hanya melihat perut Larsono ditusuk berulangkali oleh napi lainnya. Darah segar sudah mengalir kemana-mana membuat lantai penjara penuh dengan noda darah. Tepat saat Larsono lemas, datang sipir penjara dan langsung menegur mereka. Napi yang menusuk Larsono segera menyembunyikan sikat gigi itu di balik bajunya."Heh, apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan? Tidak bisa ditinggal sebentar saja!" gerutunya sambil menyalakan lampu dalam sel. Dan seketika petugas itu terkejut melihat kondisi Larsono yang bersimbah darah. "Astaga, siapa yang melakukan hal ini?" tanya petugas polisi itu. Ketiga tahanan terdiam dan hanya menatap Larsono yang sudah pingsan karena kesaktian dan kekurangan darah. Polisi itu langsung memanggil
Beberapa Minggu sebelumnya,"Kamu kayaknya lagi seneng deh, Put?" tanya Mamanya saat Putra baru saja pulang dari kafe Naimah. Putra mengurungkan niatnya untuk berjalan ke kamar lalu menghampiri mamanya. "Seneng dong. Coba Mama tebak alasannya?" tanya Putra sambil menatap wajah mamanya dengan seksama. Mamanya tersenyum lebar. "Pasti karena cewek. Ya kan?"Mata Putra mendelik. "Kok Mama bisa tahu sih?""Ya karena Mama pernah muda, Put. Tapi kamu saja yang belum pernah tua."Putra tersenyum. "Ya, bisa saja kan mama nebaknya karena omset toko kita naik?""Hm, nggak tuh. Kan feeling mama bilang kalau kamu bahagia karena perempuan. Jadi siapa dia? Coba bawa kesini," ucap sang mama membuat Putra tersipu malu. "Tapi, dia janda anak 1, Ma.""Lha, kenapa memangnya kalau janda. Asal bisa menjaga kehormatan diri, maju aja terus."Mata Putra berbinar. "Sungguh, Ma?""Tentu saja. Mama tidak pernah bercanda untuk hal seperti ini.""Jadi, mama setuju.""Tentu saja. Coba kenalin ke mama. Dan kamu
Orang itu menerima serbuk putih lalu dengan secepat kilat menodongkan pistol ke arah Larsono."Kami polisi! Angkat tangan dan menyerahlah!" seru orang itu seraya menempelkan pistol pada kening Larsono. "Apa salah saya, Pak? Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya suruhan untuk nganter barang.""Barang yang kamu antar itu Narkoba. Jadi jangan pura-pura tidak tahu! Segera turun dari mobil dan hadap ke depan!"Larsono mengangguk lalu membuka pintu perlahan. Saat dia hampir keluar dari mobil, lelaki itu menabrakkan pintunya ke tubuh polisi itu. Lalu berlari sekuat tenaga masuk ke dalam sawah. "Saudara Larsono, jangan lari!"Kedua polisi itu langsung mengejar Larsono. Salah satu dari mereka, menembakkan pistol nya ke udara. "Dorr!!""Jangan lari, kamu! Atau kami tembak."Larsono mempercepat larinya. Suasana gelap area persawahan membuatnya kesulitan untuk lari dengan kencang. Dooorrr!Aaarggh!Peluru yang ditembakkan oleh polisi itu mengenai kaki Larsono. Lelaki itu berteriak kesakitan da
"Jangan mimpi! Dia anak kamu atau bukan, papa tidak akan pernah mau menerima nya. Dan satu hal lagi, kamu pilih nikah sama perempuan itu tapi papi coret dari KK dan tidak mendapatkan warisan sepeserpun, atau kamu tinggalkan perempuan itu dan anaknya serta kembali pada Dila?! Jawab sekarang!"'Wah, pa
Dimas menoleh ke belakang dan sangat terkejut melihat kedatangan istrinya yang sedang berkacak pinggang. "Jadi ini kelakuan kamu, Mas? Aku benar-benar kecewa. Setelah kamu menjadi penanggung jawab resto milikku, kamu malah selingkuh dengan pelacur ini?" tegur Adila, istri Dimas. Wajah Dimas memucat.
"Waalaikumsalam, mbak Nai, apa aku bisa minta tolong?" "Kamu ..,""Aku Titin, Mbak! Tolong aku!"Naimah terdiam. Dia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Sudah jam 1 malam. "Mbak, mbak? Kamu kok diam saja, Mbak? Aku butuh pertolongan kamu!"Naimah menghela nafas. "Kamu pikir sekarang jam bera
Dan lelaki itu tercekat saat melihat Titin dan Dimas masuk ke dalam salah satu kamar hotel. Larsono hanya bisa menatap dari kejauhan. Lalu sebuah ide melintas di benaknya. Dengan cepat Larsono mengeluarkan ponselnya dan merekam Titin yang masuk ke dalam kamar hotel. Larsono merasa hatinya sakit buka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰