เข้าสู่ระบบDua bulan setelah acara pesta pernikahan Aaron dan Fay, semuanya berjalan seperti yang dikehendaki. Sejak mendapat peringatan dari Edward, sampai detik ini Tetua Marcus tidak berani bergerak. Ia tidak melakukan apa pun, setidaknya untuk saat ini. Marcus memilih bermain aman sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk melanjutkan rencananya.Sementara itu, di kediaman pribadi Aaron, suasana justru semakin diliputi ketegangan dan kesedihan.Tim pencari yang dipimpin langsung oleh Aldrick, Sang Beta, belum berhasil menemukan keberadaan Hendra. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi setelah melarikan diri dari hotel.Aldrick berdiri di hadapan Aaron dengan sikap tenang. Sebagai Beta, ia memahami bahwa kegagalan menemukan Hendra bukan sekadar masalah kehilangan jejak seorang buronan. Ada kemungkinan pria itu telah mempersiapkan pelariannya jauh sebelum insiden di hotel terjadi.“Tuan, kami telah memeriksa seluruh jalur yang memungkinkan Hendra melarikan diri, termasuk meminta keterangan d
Fay menatap Aaron dengan pandangan kabur oleh air mata. Untuk sesaat, ia seolah ingin mempercayai bahwa jawaban suaminya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Namun, ketika pikirannya kembali pada belati yang nyaris mengenai kepalanya, rasa sakit itu kembali muncul.Fay perlahan melepaskan pelukannya.Ia menggeleng sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.“Nggak, Aaron. Aku nggak bisa menerima alasan seperti itu.”Aaron membiarkan kedua tangannya turun, tetapi ia tetap berdiri dekat dengan istrinya. “Aku tahu kamu sedang terluka, Fay.”“Bukan hanya karena aku terluka!” Fay menatapnya dengan mata merah. “Aku nggak peduli apa pun yang sedang Ayah hadapi. Kalau dia memiliki masalah, dia bisa membicarakannya dengan kami. Kalau ada sesuatu yang membuatnya marah, dia bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”Suaranya bergetar, tetapi kali ini ada ketegasan yang mulai muncul di antara kesedihannya.“Dia nggak harus menyerang Arsen. Dia nggak harus melemparkan belati ke arahku
Begitu merasakan kehangatan tubuh Aaron, seluruh pertahanan yang sejak tadi menahannya seketika runtuh.Tangis Fay pecah.Bukan lagi isakan tertahan, melainkan tangisan keras yang keluar bersama seluruh ketakutan, kebingungan, dan kepedihan yang tidak sanggup ditanggungnya seorang diri.“Aaron....”Ia memanggil suaminya lagi, tetapi suaranya terputus oleh isakan.Aaron segera merengkuhnya lebih erat. Satu tangannya menopang punggung Fay, sementara tangan lainnya membelai rambutnya dengan gerakan perlahan.“Tenanglah, aku sudah di sini.” Suara Aaron terdengar rendah dan lembut, jauh berbeda dari nada dingin yang digunakannya saat memberikan perintah kepada para prajurit. “Kamu nggak sendirian, Sayang.”Namun, kalimat itu justru membuat tangis Fay semakin keras.“Aku nggak ngerti, Aaron. Aku benar-benar nggak ngerti!” Fay menggeleng berkali-kali di dada suaminya. “Ayah ... kenapa Ayah melakukan itu kepada kami? Kenapa?”Aaron tidak menyela.Ia membiarkan istrinya mengeluarkan seluruh pe
Lucien dan beberapa prajurit pilihan telah menunggu di dekat tangga lantai atas, sementara beberapa prajurit lainnya tetap berjaga di depan pintu kamar utama.Begitu Aaron menapakkan kaki di anak tangga paling atas, Lucien segera melangkah maju untuk menyambut Sang Alpha. Para prajurit yang berada di dekat tangga serentak menegakkan tubuh dan menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.“Tuan.”Aaron tidak memperlambat langkahnya. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot mata hitamnya menyimpan ketegangan yang sulit disembunyikan. Sejak menerima isyarat Edward di aula, pikirannya terus tertuju pada Fay dan Arsen, disertai kekhawatiran tentang apa yang mungkin telah terjadi pada mereka.“Jelaskan apa yang terjadi,” perintahnya singkat.Lucien segera berjalan di sampingnya, mengikuti langkah panjang Sang Alpha menuju kamar utama.“Hendra menyerang Tuan Muda Arsen menggunakan belati perak yang memiliki ukiran simbol kuno. Namun, sebelum senjata itu sempat mengenai tubuh Tuan Muda, auranya
Edward tidak membuang waktu dan sengaja berjalan langsung ke arah kerumunan para tetua dan Dewan Klan.Beberapa dari mereka segera bangkit untuk menyambutnya."Tuan Johnson, sungguh suatu kehormatan bertemu dengan Anda secara langsung," ujar salah satu anggota Dewan sambil mengulurkan tangan. "Kami telah mendengar banyak hal mengenai kerja sama Anda dengan perusahaan kami."Edward menjabat tangannya dengan ramah. "Saya senang kerja sama tersebut memberikan hasil yang baik bagi semua pihak.""Tanpa dukungan Anda, pengembangan Proyek Utara tentu akan menghadapi lebih banyak hambatan," sahut anggota Dewan lainnya. "Kami sangat menghargai kepercayaan yang Anda berikan kepada Aaron.""Kepercayaan harus dibangun melalui hasil," jawab Edward tenang. "Dan sejauh ini, Aaron telah menunjukkan bahwa ia mampu memenuhi komitmennya."Jawaban itu membuat beberapa anggota Dewan mengangguk puas.Para anggota dewan yang tergiur akan kekuasaan finansial tampak sangat antusias, berulang kali mengucapkan
Di lantai bawah, pesta pernikahan masih berlangsung.Cahaya lampu kristal menyinari seluruh aula, memantulkan kilauan indah pada gaun-gaun mewah para tamu wanita dan setelan formal para tamu pria. Musik lembut mengalun, berpadu dengan percakapan para tamu yang menikmati jamuan.Tidak seorang pun menyadari bahwa sebuah insiden berbahaya baru saja terjadi di lantai atas.Para pelayan tetap bergerak sesuai tugas mereka. Para petugas keamanan yang menyamar sebagai staf hotel pun masih menempati posisi masing-masing, menjaga jalur keluar dan area penting tanpa menarik perhatian.Namun, suasana di sekitar panggung langsung berubah ketika Edward muncul di tangga utama dengan tenang, elegan, dan penuh wibawa.Begitu sosoknya terlihat di atas tangga melingkar, hampir seluruh pasang mata di pesta pernikahan beralih padanya.Kehadiran Edward yang memancarkan aura dominan seketika mencuri perhatian. Para tamu berbisik-bisik, mengamati penampilannya dan menebak-nebak siapa sosok tersebut."Siapa p
Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil
Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l
“A-apa maksud—ah!”Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p
“Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b







