Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 149. Semua Berjalan Sesuai Rencana

Share

149. Semua Berjalan Sesuai Rencana

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-11 10:08:38

Sepanjang sisa makan siang, Aaron berkali-kali tersenyum lembut setiap kali menatap Fay yang masih salah tingkah. Suasana makan siang yang awalnya diduga akan berjalan kaku, justru berubah menjadi hangat dan dipenuhi obrolan ringan.

Robert beberapa kali melontarkan komentar blak-blakan yang mengundang tawa, sementara Aldhen sesekali menimpali dengan kalimat singkat yang selalu tepat sasaran.

Bahkan para pemburu elit yang semula duduk dengan kaku mulai terlihat lebih rileks dan larut dalam obrol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   153. Sayap Perlindungan

    Setelah gerbang utama Benteng Batu menghilang di balik kabut pegunungan, rombongan Aaron terus bergerak menjauh dari wilayah Aldhen.Angin pegunungan berembus semakin kencang, membawa aroma tanah basah dan dingin yang menusuk tulang. Namun, di dalam barisan pasukan klan dominan, ketegangan yang sebelumnya mencengkeram kini telah mencair, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi untuk mengawal kepulangan sang Luna.Jalur berbatu yang mereka lalui menurun perlahan mengikuti lekuk lereng gunung. Di beberapa bagian, tebing-tebing tinggi menjulang di sisi jalan, sementara hamparan lembah luas terlihat membentang jauh di bawah sana.Fay berjalan di sisi Aaron dengan tangan yang tidak pernah benar-benar dilepaskan oleh pria itu.Jemari besar Aaron menggenggam tangannya erat namun hangat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia lengah sedetik saja.Bahkan setiap kali jalur yang mereka lalui sedikit tidak rata, Aaron otomatis memperlambat langkahnya agar Fay tidak kesulitan mengikuti

  • Anak Rahasia Sang Alpha   152. Rahasia yang Tidak Boleh Terbongkar

    "Apa? Tidak, itu tidak mungkin!" Bisikan tidak percaya itu lolos begitu saja dari sela-sela bibir Stanley yang mendadak kering.​Marcus hanya mengangkat bahu sekilas, menikmati pemandangan kehancuran di wajah pria di depannya.​Stanley mundur setengah langkah, merasa seolah-olah ada batu besar yang menghantam dadanya hingga sesak.Ia tahu lebih baik daripada siapa pun betapa sulitnya menembus pertahanan para pebisnis Singapura tersebut. Mereka terkenal sangat selektif, dingin, dan tidak tersentuh oleh suap atau intimidasi kaum werewolf. Bahkan dirinya sendiri, dengan segala jaringan yang ia miliki, belum pernah berhasil mendapatkan komitmen penuh dari mereka.​Tapi Aaron? Pemuda itu berhasil? Dalam waktu yang sesingkat itu?​"Tidak, ini pasti kesalahan. Kamu pasti sedang menggertakku," desis Stanley, mencoba mencari celah kebohongan.​Namun, sorot mata Marcus yang jernih dan penuh kemenangan menunjukkan bahwa semua ini adalah kenyataan pahit yang harus ia telan.​"Aaron berhasil meyak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   151. Tangan yang Sama-Sama Berdarah

    ​Marcus terdiam untuk waktu yang cukup lama. Di bawah lampu ruang kerjanya, tatapannya tetap tenang, datar, dan sedalam telaga mati. Tidak ada kilatan kemarahan, tidak ada pula riak ketakutan di sana. Baginya, ancaman yang baru saja dilontarkan Stanley tidak lebih dari embusan angin malam yang lewat sepintas lalu. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menunjukkan dominasi, Marcus menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit. "Dendam memang memiliki cara yang unik untuk membuat seseorang bertahan hidup lebih lama, Stanley," ujar Marcus, suaranya berat dan serak, khas seorang tetua yang telah melewati ratusan badai. Stanley menyipitkan matanya, merasa terganggu dengan ketenangan pria di hadapannya. "Apa maksudmu dengan omong kosong itu?" "Kamu masih terus memikirkan luka di wajah Jessi." Marcus menatapnya lurus, membedah ekspresi Stanley tanpa belas kasihan. "Itu adalah bukti nyata bahwa kamu belum benar-benar bisa menerima kenyataan. Kamu terjebak oleh dendam itu sendiri

  • Anak Rahasia Sang Alpha   150. Janji Berdarah yang Ditagih

    Matahari siang bersinar terang di atas markas utama klan. Aktivitas para anggota klan masih berlangsung seperti biasa. Beberapa kendaraan keluar masuk area utama, sementara para penjaga berjaga di setiap titik strategis dengan disiplin tinggi. Sebuah mobil hitam mewah perlahan berhenti di pelataran depan markas. Pintu kendaraan terbuka. Stanley turun dengan ekspresi dingin. Beberapa penjaga segera memberi salam hormat saat mengenalinya. Sebagai salah satu investor terbesar yang selama bertahun-tahun memiliki hubungan dekat dengan Sang Tetua, kedatangannya sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan. Namun hari ini Stanley tidak menuju aula utama. Ia juga tidak berniat menghadiri rapat resmi apa pun. Tanpa membuang waktu, ia langsung berjalan menuju sayap barat bangunan utama, tempat ruang kerja pribadi Tetua Marcus berada. Langkahnya mantap. Tatapannya tajam. Jelas terlihat bahwa ia datang dengan tujuan tertentu. Sepanjang koridor, beberapa pria berpakaian hitam berdiri dalam posisi

  • Anak Rahasia Sang Alpha   149. Semua Berjalan Sesuai Rencana

    Sepanjang sisa makan siang, Aaron berkali-kali tersenyum lembut setiap kali menatap Fay yang masih salah tingkah. Suasana makan siang yang awalnya diduga akan berjalan kaku, justru berubah menjadi hangat dan dipenuhi obrolan ringan.Robert beberapa kali melontarkan komentar blak-blakan yang mengundang tawa, sementara Aldhen sesekali menimpali dengan kalimat singkat yang selalu tepat sasaran.Bahkan para pemburu elit yang semula duduk dengan kaku mulai terlihat lebih rileks dan larut dalam obrolan santai bersama yang lain.Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika percakapan ringan itu mulai mencapai ujungnya dan suasana perlahan menjadi lebih tenang, Aaron tiba-tiba menegakkan posisi duduknya. Tanpa menunggu aba-aba atau kode dari siapa pun, ia langsung mengambil alih kendali untuk membuka percakapan akhir.​"Aku rasa kami harus segera kembali," ucap Aaron.​Seketika percakapan di meja mereda.​Fay yang duduk di sampingnya ikut mengangguk kecil, sementara Aldrick dan Lucien begitu menangkap

  • Anak Rahasia Sang Alpha   148. Alpha yang Berubah

    Robert menggelengkan kepala berkali-kali sambil mengambil gelas minumnya. "Aku sungguh nggak mengerti bagaimana percakapan ini bisa berubah dari ancaman perang menjadi pemandangan seperti ini hanya dalam beberapa jam." "Aku juga," sahut Lucien datar dari ujung meja. Aldrick melirik sekilas ke arah Aaron dan Fay, lalu kembali fokus pada makanannya. "Setidaknya hasil akhirnya lebih baik daripada pegunungan ini hancur." "Itu poin yang bagus," timpal Robert. Fay semakin ingin menghilang dari ruangan itu. Sayangnya, kedua Alpha dari wilayah luar tersebut tampaknya belum berniat berhenti. "Aku penasaran," ujar Robert sambil menyandarkan siku di meja. "Apa kamu memang selalu seperti ini, Aaron?" Aaron mengangkat sebelah alis. "Seperti apa?" Robert menunjuk tanpa malu-malu. "Seperti pria yang nggak bisa melepaskan pasangannya selama lebih dari lima menit." Aaron menatapnya sebentar sebelum menjawab tenang. "Ini pertama kalinya aku punya pasangan." Jawaban itu membuat Robert terdiam s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status