ANMELDEN
Video di ponselku terus berputar berulang kali. Aku melihat dua tubuh telanjang di atas ranjang, erangan dan desahan keras memenuhi kamar tidurku yang sepi. Aku tidak menangis atau berteriak; aku hanya merasa mati rasa total di dalam hati.
Aku langsung mengenali pria itu dari bekas luka panjang di bahu kirinya. Itu Andi Suherman, suamiku, sedang meniduri seorang wanita lain yang mengerang keras. Orang asing yang mengirimiku video ini tidak menulis apa pun, tetapi video itu sudah cukup untuk menghancurkan duniaku. Tanganku sedikit gemetar saat menjeda video tepat di wajahnya. Aku menyadari cincin kawinnya masih melingkar di jarinya saat dia menyentuh wanita itu. Aku tertawa pelan pada diri sendiri, tetapi tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawa itu. "Apakah ini benar-benar pria yang kucintai selama tujuh tahun?" tanyaku pada diri sendiri dalam gelap. Aku tidak meneleponnya atau mengirim pesan marah untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Aku tahu jika aku bertanya, dia hanya akan membuat alasan bodoh. Aku sudah terlalu lelah untuk bertingkah seperti orang bodoh lagi. Aku menyimpan video itu ke dalam folder pribadi di ponselku, menguncinya, dan meletakkan ponsel itu di meja. Pernikahan kami sebenarnya sudah hancur berbulan-bulan yang lalu, tepatnya ketika aku mengetahui bahwa aku hamil. Aku teringat malam hujan ketika dengan bangga kutunjukkan alat tes kehamilan yang positif padanya. Kupikir dia akan tersenyum atau memelukku, tetapi dia justru terlihat kecewa dan kesal. "Singkirkan itu, Sherine," katanya dengan suara dingin saat itu. "Ini bayi kita, Andi," ujarku, sambil memegangi jaketnya yang basah. "Kita tidak akan punya anak sekarang. Pergi ke klinik, atau aku akan mengantarmu ke sana sendiri." Aku melakukan aborsi karena aku merasa tidak punya pilihan. Bertahun-tahun yang lalu, ayahku bangkrut dan berhutang banyak pada orang-orang berbahaya. Andi melunasi semua hutang itu dan menyelamatkan keluargaku, jadi aku merasa berhutang seluruh hidupku padanya. Aku tetap bersamanya karena rasa terima kasih, dan dengan bodohnya berpikir dia juga mencintaiku. ---- Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki berat menuruni lorong. Pintu terbuka, dan Andi masuk ke dalam ruangan mengenakan setelan jas gelapnya dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Dia bau parfum vanila murahan dan alkohol mahal. "Kenapa kau masih belum tidur?" tanya Andi sambil melepas jam tangannya. "Aku hanya menunggumu," jawabku pelan, menatap wajahnya. "Seharusnya kau tidak menungguku. Pekerjaan di kantor gila malam ini." Dia berbohong dengan begitu mudahnya tanpa berkedip sedikit pun. Dia bilang dia bekerja lembur, tetapi video itu menunjukkan dia berada di kamar hotel dengan seorang pelacur satu jam yang lalu. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampirinya dengan gaun tidurku. "Apakah pekerjaanmu benar-benar seberat itu malam ini?" tanyaku, berdiri tepat di depannya. "Ya, itu melelahkan. Tolong jangan mulai menginterogasiku, Sherine. Aku sedang tidak mood." "Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya." jawabku santai. Andi mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku, tetapi aku menarik kepalaku ke belakang sebelum dia bisa menyentuhku. Dia mengerutkan kening, terlihat kesal dengan reaksiku. Dulu, sentuhannya membuatku merasa aman, tapi sekarang itu justru membuatku merasa mual dan jijik. "Apa salahku?" tanyanya, melangkah mendekatiku. "Tidak ada. Aku hanya benci bau vanila." "Itu hanya penyegar udara dari mobilku. Berhenti berpikir berlebihan."Andi menjawab sambil menggrutu. Dia tidak repot-repot menjelaskan lebih lanjut dan hanya melemparkan jasnya ke kursi. Dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku, sama seperti ketika dia memaksaku kehilangan bayiku. Dia benar-benar berpikir aku masih wanita lemah yang sama yang akan selalu memaafkannya. Aku berdiri di belakangnya dan menatap punggungnya, merasakan setiap tetes terakhir cinta yang kumiliki untuknya berubah menjadi debu dan kebencian. Dia menyelamatkan saya di masa lalu, tetapi dia juga membunuh anak saya dan menghancurkan harga diri saya. Hutang itu secara resmi telah lunas, dan aku tidak berhutang apa-apa lagi padanya. "Andi," panggilku namanya, menjaga suaraku tetap sangat tenang. "Apa yang kau inginkan sekarang? Aku harus mandi." "Tidak ada. Aku hanya kangen." Dia berhenti di pintu kamar mandi dan menatapku kembali dengan kebingungan. Aku hanya memberinya senyum sederhana dan tenang. Dia tidak tahu bahwa aku sudah selesai mengikuti permainannya. Aku tidak akan menangis, aku tidak akan melawannya, dan aku jelas tidak akan bersaing dengan wanita simpanannya yang kotor itu. Ketika aku mendengar air shower menyala, aku berjalan ke meja kerjaku dan membuka laci bawah. Di bawah beberapa syal lama, aku mengeluarkan surat cerai yang telah kucetak minggu lalu. Aku menatap kertas putih bersih itu dan merasakan beban berat terangkat dari dadaku. "Jika kau menginginkan pelacur itu, Andi, kau bisa memilikinya," bisikku pada diriku sendiri di cermin. "Karena kau tidak akan memilikiku lagi." Dia pikir dia memilikiku selamanya, tapi dia salah besar. Besok pagi, dia akan mengetahui apa yang terjadi ketika seorang istri yang baik berhenti peduli sepenuhnya.Suasana di ruang persemayaman yang hening itu terasa semakin sesak oleh kehadiran Andi. Aku menatap pria yang selama ini menjadi sumber air mataku, namun kini berdiri dengan sorot mata yang tampak berbeda—jauh lebih tenang, tidak ada kilat arogansi yang biasanya selalu melekat pada dirinya setiap kali kami berdebat."Terima kasih sudah mengurus pemakaman Ayah," ucapku dingin, berusaha menjaga jarak dan mempertahankan harga diriku di hadapannya.Andi tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Aku melakukannya bukan untuk mencari pujian darimu, Sher. Aku tahu aku salah besar padamu. Kebodohanku kehilanganmu adalah hal paling disesali dalam hidupku."Mendengar kata-kata penyesalan itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang dulu hobi berselingkuh, aku mendengus sinis. "Penyesalanmu sudah terlambat, Andi. Proses perceraian kita tetap jalan terus.""Aku tahu," balas Andi lirih, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum maskulinnya menguar ke udara. Ia m
"Panggilan video dari siapa, Sher?"Suara Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunanku. Ponsel di genggamanku terus bergetar menampilkan layar hitam dengan teror pesan singkat tersebut. Tanpa ragu, aku langsung menekan tombol merah untuk menolak dan mengabaikan panggilan itu, lalu melemparkan ponsel ke atas sofa dengan tangan yang sedikit bergetar."Bukan siapa-siapa, cuma nomor spam," jawabku berbohong, berusaha menyembunyikan kepanikan yang mendadak mencengkeram dadaku. Aku tidak mau membuat Clara cemas, apalagi hari ini ia berencana keluar untuk menenangkan diri.Setelah Clara pergi, aku memutuskan untuk bersiap-siap membersihkan diri dan mandi pagi agar pikiran-pikiran buruk akibat teror pesan tadi bisa sedikit mereda. Namun, baru saja handuk melilit di tubuhku dan aku melangkah keluar kamar mandi, suara dering telepon berbunyi dan ini dari nomer rumah sakit dimana ayahku dirawat. Dering itu memecah kesunyian, menciptakan firasat buruk yang langsung mendesir
"Siapa yang datang, Sher?"Suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar dari arah kamar tidur dalam. Clara melangkah keluar dengan rambut dicepol seadanya dan mata yang masih menyipit, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menerobos masuk dari jendela dapur. Pandangan sahabatku itu langsung tertuju pada map cokelat asing dan raut mukanya yang masih masam.Aku menggeleng pelan, berjalan lemes menuju dapur untuk melanjutkan niat bikin sarapan yang sempat tertunda. "Bukan siapa-siapa. Cuma Johan dan... Sasa."Nama terakhir yang kuucapkan membuat Clara langsung terkesiap, kantuknya menguap seketika. "Sasa?! Mantan nya Leo si brengsek itu? Ngapain dia ke sini pagi-pagi buta bareng CEO seram yang kamu ceritain kemarin?!" tanya Clara heboh, langsung menyusulku ke area dapur dengan langkah cepat."Mereka cuma mengantar berkas ini," jawabku singkat, meraih cangkir berisi air hangat yang sempat kuabaikan tadi.Clara langsung menyambar map cokelat di atas meja, membukanya deng
Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna pemandangan gila di luar pintu apartemen sempit Clara.Apa-apaan ini? Johan datang ke apartemen murah kami bersama Sasa—wanita yang pernah membuat keributan besar rumah lama Clara sebelumnya karena urusan lelaki buaya darat bernama Leo?Dengan tangan bergetar karena emosi yang mendadak meluap, aku langsung menarik gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin koridor apartemen langsung menyergap wajahku."Apa maksud kalian datang ke sini pagi-pagi buta?!" kataku tajam, menatap Johan dan Sasa bergantian dengan tatapan tidak suka.Johan menurunkan ponsel dari telinganya. Senyum tipis terukir di bibirnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada suaraku yang ketus. Pria itu tampak begitu kontras dengan dinding koridor yang kusam, memancarkan aura dominasi yang langsung membuatku merasa kecil, namun di saat yang sama juga memicu rasa jengkel yang luar biasa."Selamat pagi juga, Sherine," sapa Johan tenang, mengabaikan pertanyaanku dan m
Sentuhan bibir kami yang mendadak beradu di balik meja bar yang remang-remang langsung memadamkan segala perdebatan sengit di antara kami. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan ringan; itu adalah ledakan dari rasa rindu, frustrasi, amarah, dan keinginan mendalam yang selama berbulan-bulan kami pendam rapat-rapat.Johan sempat tertegun sepersekian detik karena terkejut atas inisiatifku yang begitu liar. Namun, dominasi pria itu langsung mengambil alih. Tangannya yang semula mencengkeram pinggangku kini merayap naik ke tengkukku, menahan kepalaku agar tidak bisa lari, sementara bibirnya balas melumat bibirku dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan menghanyutkan.Desahan tertahan lolos begitu saja dari sela-sela bibirku saat lidah Johan mendesak masuk, mengeksplorasi setiap inci rongga mulutku tanpa ampun. Suasana bising di dalam The Velvet Lounge—mulai dari dentuman musik jazz hingga riuh rendah suara para tamu—seolah lenyap tak bersisa. Dunia di sekeliling kami seakan berhenti b
"Tidak, Tuan Arman. Sepertinya malam ini saya sudah cukup melayani Anda," kataku dengan suara dingin, mendadak kehilangan selera untuk pura-pura ramah.Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung menyambar nampan perak di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan sofa nomor dua belas. Arman sempat memanggil namaku pelan, namun aku sama sekali tidak peduli. Seluruh perhatian dan fokusku kini sepenuhnya tersedot ke arah sofa VIP di seberang ruangan—tempat di mana Johan dan Sasa duduk terlalu dekat, tampak begitu menikmati kebersamaan mereka.Aku berjalan cepat menuju area bar utama, meletakkan nampan dengan sedikit sentakan keras hingga pelayan lain menoleh kaget. Napasku memburu, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena gejolak emosi aneh yang mendadak membakar dada. Cemburu? Apakah aku baru saja merasa cemburu melihat Johan bersama wanita lain?Tidak mungkin! batinku menyangkal keras. Aku yang memilih kabur darinya. Aku yang menolak sangkar emasnya demi kebebasan. Jadi







