Share

Bab 115

Penulis: Fei Adhista
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-06 21:31:12

Panggung eksekusi kini berubah sunyi.

Suara kerumunan meredup, hanya desis napas yang terdengar.

Raden Wijaya melangkah pelan menuju Raras.

Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap tapaknya terasa seperti beban petir yang menghantam dada siapa pun yang menontonnya.

Raras tetap berdiri tegak. Namun jari-jarinya mengepal di balik kainnya, berusaha menahan gemetar.

Rakai menahan tubuhnya untuk berdiri lebih dekat, tetapi dua prajurit menahan kedua lengannya. Ia mencibir, napasnya tercekat penuh amarah.

Raden Wijaya berhenti tepat satu lengan dari Raras.

“Kenapa?” Hanya satu kata, lirih namun tajam.

Raras mengangkat dagunya sedikit.

“Karena orang yang kau tangkap… bukan orang yang seharusnya mati.”

“Jadi kau berniat menggantikannya?”

Suara Raden Wijaya rendah, tetapi bergetar.

“Itu urusanku.”

Jawab Raras pendek, dingin.

Rakai menggeram.

“Raras, jangan bicara begitu padanya—”

“Kang Mas diam saja,” potong Raras tanpa menoleh.

Rakai tersentak, namun ia paham.

Ia harus menjaga dirinya teta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 139

    Kabut Pasren tidak seperti kabut perbatasan.Ia tipis, dingin, dan berbau logam serta rempah, belum lagi bau dagangan, bukan bau perang.Perahu mereka merapat pelan di dermaga kayu. Begitu kaki pertama menginjak tanah Pasren, sesuatu langsung berubah.Bukan suasana, melainkan tatapan.Para pedagang menghentikan timbangannya. Kuli angkut menahan karung di bahu. Penjaja kain menurunkan suara tawarnya.Semua mata tertuju pada satu hal, pria pingsan yang dipanggul di antara mereka.Reyas.Wajahnya pucat, napasnya dangkal, kain di dadanya basah oleh keringat dingin. Di Pasren, orang datang membawa emas, rempah, dan perjanjian, bukan tubuh hampir mati.Langkah mereka terhenti saat dua penjaga Pasren menghadang di gerbang kayu bercat hitam. Tidak berseragam kerajaan. Tidak pula membawa lambang. Hanya tombak pendek dan mata yang terlatih membaca kebohongan.“Berhenti,” ujar salah satu penjaga. Suaranya datar.“Pasren tidak menerima konflik.”Rakai melangkah setengah ke depan, tubuhnya otomati

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 138

    Ketua Bayang diikat pada batang pohon tua di tepi sungai. Tali kasar melilit pergelangan dan dadanya, cukup kuat untuk menahan, cukup ketat untuk membuatnya sulit bernapas. Topeng besinya sudah dilepas dan tergeletak di tanah, dingin dan tak berguna.Raras berdiri di hadapannya.Wajahnya pucat, rambutnya basah oleh air sungai dan keringat, tapi sorot matanya tajam. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir tumbang.“Siapa yang menyuruhmu,” ulang Raras. Tidak keras. Tidak mengancam.Ketua Bayang tersenyum miring, darah mengering di sudut bibirnya.“Kau selalu bertanya hal yang sama,” katanya serak. “Dan selalu lupa orang sepertiku tidak bekerja untuk satu nama.”Rakai berdiri di sisi Raras, pedang masih di tangan. Urat di rahangnya menegang.“Kau memimpin Bayang. Tidak ada yang menggerakkanmu tanpa bayaran besar.”Ketua Bayang tertawa kecil, batuk di akhir tawanya.“Bayaran?” Ia menggeleng pelan. “Kalian raja-raja kecil tidak pernah paham. Ada hal yang lebih mahal d

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 137

    Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika mereka tiba di bibir sungai perbatasan.Airnya lebar, arusnya tenang tapi dalam, jenis sungai yang tampak ramah namun menyimpan kematian bagi yang lengah.Sebuah perahu kayu tua terikat di batang pohon, siap dipakai menyeberang. Di seberang sana, tanah Pasren benar-benar berakhir. Setelah itu, wilayah netral yang tidak tunduk pada siapa pun.Rakai menurunkan ransel. Arya memeriksa tali perahu. Reyas berdiri agak jauh, masih pucat tapi memaksa diri tetap tegak. Raras berdiri paling belakang, satu tangannya menekan bahu yang masih nyeri, wajahnya pucat namun fokus.“Kita menyeberang cepat,” kata Rakai. “Sekali di tengah sungai—”Anak panah menancap di papan perahu.Bukan peringatan.Serangan.Kabut di seberang sungai bergerak.Bukan karena angin, tapi karena langkah.Satu sosok maju lebih dulu, tubuhnya tinggi, dibalut pakaian hitam tanpa lambang. Wajahnya tertutup setengah topeng besi tipis. Di belakangnya, bayangan lain bermunculan sepuluh,

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 136

    Kabut sudah benar-benar menipis ketika mereka melanjutkan perjalanan menjauh dari sungai. Pasren kembali sunyi, seolah pertemuan barusan hanyalah gema yang sengaja dilupakan tanah itu.Raras berjalan beberapa langkah di depan, lalu tiba-tiba melambat. Tangannya naik ke pelipis.“Raras?” panggil Rakai cepat.Ia tidak menjawab. Napasnya terdengar pendek. Dunia di sekelilingnya terasa miring, suara air sungai menjauh, lalu mendekat lagi seperti ditarik.“Kepalaku…” gumamnya pelan.Langkahnya goyah.Rakai sudah di sisinya sebelum lutut Raras benar-benar melemah. Ia memegang bahunya, lalu lengan, menopang dengan refleks yang lahir dari ketakutan yang tidak ia sembunyikan.“Berhenti. Jangan jalan dulu,” katanya tegas, tapi nada suaranya pecah di ujung.Raras mengangguk kecil, tapi wajahnya semakin pucat. Keringat dingin muncul di pelipisnya.“Tiba-tiba berputar,” katanya lirih. “Seperti… ada yang menarik dari dalam.”Ia menutup mulutnya cepat-cepat.Mual itu datang keras dan tanpa peringata

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 135

    Kabut belum sepenuhnya buyar ketika derap langkah lain muncul dari arah timur.Bukan langkah sembunyi. Bukan langkah pemburu.Ini langkah pasukan terlatih yang tidak berniat bersembunyi.Rakai langsung tahu. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Arya menegang. Alin memeluk Reyas lebih erat. Udara berubah lebih berat.Dari balik tirai kabut, barisan muncul.Perisai berukir. Tombak tegak. Panji Indragiri berkibar rendah tidak tinggi seperti perang, tapi cukup jelas untuk menyatakan kekuasaan.Dan di tengah mereka, Raja Wijaya.Ia turun dari kudanya perlahan. Tidak mengenakan zirah penuh. Hanya mantel gelap dan mahkota tipis. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang datang melintasi wilayah tanpa izin.Matanya langsung menemukan Raras.Ia berhenti beberapa langkah dari mereka semua, lalu berkata dengan suara yang tidak perlu ditinggikan,“Akhirnya.”Raras tidak bergerak.Tubuhnya kaku, bukan karena takut, melainkan karena nama itu. Cara ia mengucapkannya. Seolah semu

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 134

    Kabut menggantung rendah di atas sungai, seperti tirai yang sengaja diturunkan agar rahasia tidak mudah terbaca. Api unggun dipadamkan. Mereka bergerak dalam diam, menyebrangi air sedingin logam, menahan napas setiap kali arus menghantam betis.Raras berjalan terakhir.Setiap langkahnya berat. Bukan karena lelah—melainkan karena suara-suara yang mulai muncul di kepalanya.Bukan suara Reyas.Bukan suara Rakai.Suara lain.—Jangan lihat ke belakang, Ajeng.—Kalau kau ragu, kita mati.Ia tersentak.Tangannya refleks meraih gagang pedang. Jari-jarinya hafal lekukannya, bahkan sebelum pikirannya menyusul.Rakai yang berjalan di depan langsung berhenti.“Ada apa?” bisiknya.“Tidak apa-apa,” jawab Raras cepat.Sekali lagi terlalu cepat.Mereka tiba di tepi Perbatasan pasren saat fajar belum lahir sepenuhnya. Daratan berbatu itu sunyi, liar, tanpa penanda kekuasaan. Tidak ada bendera. Tidak ada menara. Hanya tanah yang menolak tunduk.Arya membantu Alin menaikkan Reyas ke bebatuan. Reyas meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status