Mag-log inGanes, perempuan yang terjun dalam dunia ojek online sejak lulus sekolah, secara tak sengaja mempertaruhkan hidupnya demi sang tetangga. Bukan hanya taruhan mengenai uang kecil yang tak bisa dibanggakan, tetapi hadiah yang lebih menggiurkan dari salah satu pendiri sanggar seni ternama di kota. Dari taruhan yang sama, ia mampu melihat sisi lain dari sosok angkuh yang membuatnya sengsara di tempatnya bekerja. Dari seorang pria yang angkuh dan suka cari gara-gara itu ia menemukan pelajaran hidup yang berharga. Dari takdir itulah, ia mulai menikmati kesengsaraan yang sebelumnya dikutuk sedemikian rupa. Tanpa diduga, atas permintaan Rajendra untuk membuatnya sengsara, ia kembali menemukan kebahagiaan. Bersama dengan perempuan setengah baya yang keras nan tegas, ia dididik hingga berhasil menyabet peran besar yang diidam-idamkan banyak orang. Hingga akhirnya ia sadar, direktur utama yang masih perjaka dan angkuh yang mempertaruhkan hidupnya, sebenarnya perwujudan malaikat tak bersayap dalam hidupnya yang penuh lika-liku. "Terima kasih, untuk semua yang telah mendukungku. Terutama, Ibu Saras. Karena Anda, saya yang mulanya hanya mengantar tetangga, turut berkecimpung dalam dunia yang penuh dengan gagap gempita. Terima kasih pada Pak Rajendra, sebab neraka yang Anda sediakan malah menjadikanku bintang." -Ganes.
view moreGanes menghela napas panjang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran sang kawan. Terlebih, niat yang dikukuhkan demi bisa menyainginya.Padahal, Ganes tak pernah melupakan Diana. Ia bahkan selalu berterimakasih atas segala hal, meski tak pernah diterima. Namun kini, alih-alih mendukung ia akan mendapat tusukan dari kawan sendiri.Ganes telah menyelesaikan tiga permintaan antar dari aplikasi ojek online yang menaunginya. Ia memilih menepi sebentar di pinggir jalan. Bukan untuk sarapan, melainkan untuk membuka pikiran.Sudah barang pasti ada hal yang tak memuaskan bagi Diana hingga harus berniat hendak menusuknya dari belakang. Walaupun Ganes tak tahu pasti apa itu, tapi ia memaksa untuk mengingat banyak hal.Nyatanya, ia merasa memang tak pernah punya salah. Begitu pun Diana. Tak ada tanda-tanda sikap Diana yang berubah. Terlebih, setelah ia diberikan peran untuk debut pertama.Mau tak mau, Ganes mencoba menghubungi sang kawan. Telah ia kirimkan pesan singkat pada Diana hanya
"Apa yang membuatmu begitu ikut campur atas masalah keluargaku, Nes? Masalahmu sendiri saja, kamu tak mampu menyelesaikannya! Lantas, kenapa ikut campur masalah orang?"Pertanyaan Diana terus terngiang dalam kepalanya. Sudah berhari-hari ia tak lagi bertemu dengan Diana. Jangankan bertemu dan kembali bersenda gurau, untuk saling menyapa dalam pesan singkat pun keduanya terlihat enggan.Ganes dengan kekecewaannya yang mendalam sedangkan Diana dengan kekesalannya sebab dituduh sedemikian rupa. Sudah tujuh hari pula ia bekerja lebih dari delapan jam tiap harinya demi menebus jam tayangnya saat pertunjukan.Bak didatangi Dewi Fortuna. Hal itu lantas membuat Ganes terlihat lebih sibuk dari biasanya. Dengan begitu, ia tak harus segera pulang ke rumah. Usai bekerja, ia akan melanjutkan pekerjaan utamanya sejak beberapa tahun silam, yakni menjadi sopir ojek online.Selama bekerja pun, tak ada satu patah kata yang bisa ia ungkap selain menjawab sapaan para aktris muda. Penampilannya dalam debu
"Saya tak pernah kenal dengan orang tua saya, Bu. Jangankan nama, darah yang mengalir saja tak akan mampu lagi mengenali mereka."Pernyataan yang masih terngiang-ngiang dalam kepala Ganes itu benar-benar membuatnya memikirkan banyak hal. Meski ia sendiri yang mengatakan demikian, tetapi saat mengingat ucapan Rosmana, ia mulai resah nan bimbang.Jam sudah menunjuk ke angka sepuluh setelah ia ngebit beberapa jam sepulang dari kediaman Nyonya Saras. Tujuh permintaan antar pun telah ia selesaikan dalam waktu dua jam. Lantas, segera ditujunya bangunan dua lantai yang menjadi tempatnya berpulang setelah sadar hari kian malam.Ganes telah merebahkan badan di kasur lantainya. Spon busa densiti tinggi itu berhasil meredam sakit punggung dan pinggangnya seketika. Ia mendesah panjang, lantas kembali terpikirkan mengenai jawaban Nyonya Saras.Bukan tanpa sebab. Tepat usai ia membersihkan badan, kala ia sibuk menenggak teh rempah buatan Nyonya Saras, ada yang membuatnya begitu resah. Melihat sang
Tujuh hari pertunjukan Ganes telah usai. Namun, hutang pekerjaan Ganes belum juga terbayar. Sejak awal, Rajendra memang telah menyiapkan segalanya. Mengenai neraka yang berkemungkinan akan membuat Ganes jera.Meski ada tanda tangan di atas kertas mengenai pertunjukan yang masih berada di jam kerja telah dihitung kerja, tetapi nyatanya ada catatan terakhir yang membuat Ganes rugi besar."Sialan emang si Jendra. Aku baru tau kalo pas tanda tangan mesti baca semua poin yang tertuang. Yang kutahu kan, cuma perjanjian bahwa pertunjukanku termasuk jam kerja."Gerutuan Ganes tak juga berhenti meski jam sudah menunjuk ke angka lima. Meski ia tak lagi berlatih di aula seperti yang sudah-sudah, tetapi tetap saja ia sudah bekerja lebih dari delapan jam."Sialnya, itu poin malah tercetak lebih kecil dan ditebalkan. Bodohnya, aku enggak baca. Halah. Emang otak si Jendra aja yang liciknya enggak kira-kira."Sekali lagi, Ganes tengah moping sembari terus mengomel tanpa jeda. Padahal, tak ada lagi se
Ganes telah berada dalam perjalanan menuju ke Surabaya. Ditatapnya luar jendela dengan nanar. Mengingat jawaban Rosmana, ia terus memikirkan ibunya.Ganes mulai bimbang. Entah kenapa, ia ingin mencari tahu kembali mengenai sosok sang ibu yang telah lama ia kutuk sebab menelantarkannya sejak masih ber
"Kurang, Ganes! Wajahmu masih manusia! Liarkan pandanganmu! Tatap aku layaknya memburu makananmu! Jangan berharap apa pun pada manusia sepertiku!"Cemeti yang digenggam Nyonya Saras dilecut hingga bunyinya memekakkan telinga. Tak terkecuali Ganes yang terganggu pendengarannya.Ganes merangkak, berjala
Ganes mulai lelah. Ia muak. Terlebih, sejak pagi telinganya terus mendengar gosip-gosip tak sedap yang sering digaungkan.Sembari terus moping salah satu ruangan PJ di lantai tiga, dengung akan citra buruk mengenai dirinya tak henti-hentinya menggema. Meski berulang kali ia berdecak, nyatanya tak ber
Ganes hampir tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Alih-alih langsung masuk ke lahan parkir yang disediakan, ia memilih menepi tepat di samping warung yang bersebelahan dengan rumah sakit salah satu panca indra manusia."Kenapa berhenti di sini?" tanya Rajendra. Ia yang berada di balik punggung Gane






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.