เข้าสู่ระบบPukul 11 siang, Tama penuh semangat keluar dari ruangan operasi. Ia melepaskan sarung tangan latex, memberikan seluruh data rekam medis pasca pulih kepada suster, mengecek semua kondisi pasien setelah di pindah di ruang rawat, bertemu keluarga pasien untuk menjelaskan kondisi terkini. Setelah rangkaian perawatan selesai, Tama segera ganti pakaian. Ia mengenakan kemeja tergulung di padukan celana hitam rapi, lalu segera menuju lantai 7 dimana Papa Gino di rawat.
Huh...Tama mPapa Gino, Mama Lusy dan Mike terpaku. Mama Lusy memang geram. Ia sudah salah menilai Leon selama ini. Namun karena menghargai Leana yang sebentar lagi akan menjadi menantunya, dan kebaikan keluarga Wildson kepada keluarganya yang sudah terjalin erat, maka dirinya berdamai dengan emosionalnya setiap kali sang putri mengeluhkan setiap masalah yang menyangkut nama Leon.Mama Lusy maju, berhenti di samping Nyonya Renata. Pandangannya lurus menghujam wajah kaku Leon yang masih tertunduk sambil menyeka sekilas sudut bibirnya yang robek."Tante pikir kebaikanmu pada Alena hanya kamu anggap sekedar saudara saja, Leon! Namun Tante salah menilai kamu selama ini. Hampir saja kamu mencelakai putri Tante dan calon cucu Tante. Mungkin saja jika bukan karena baikan kedua orang tuamu kepada keluarga Tante, bisa saja Tante menyuruh Mike untuk membatalkan pertunangannya dengan Leana. Tante tidak suka berhubungan dengan seseorang yang pada akhirnya akan memanfaatkan kepentingan prib
Ting!Lift baru saja terbuka, Alena keluar sambil mengedarkan mata. Teknisi tadi bilang, Aston akan menunggunya. Tapi dimana? Alena mencari jalan keluar, namun baru dua langkah kakinya menapak, ada tangan kekar yang mencengkram tangannya dari belakang. Alena pun reflek menoleh. Di depannya sudah ada seorang pria yang mengenakan setelan kasual dilapisi jaket hoodie memakai masker dan topi. Alena mengenal betul jaket milik siapa itu.Alena menarik maskernya ke bawah. "Kak....""Sayang...." Aston pun langsung memeluk tubuh Istrinya begitu erat dengan tangisan prihatin. "Sayang, akhirnya kita bersama lagi. Saya berjanji sama kamu dan diri saya sendiri, mulai detik ini, saya akan menjaga kamu."Alena merasakan lega, napasnya teratur lembut, membuat rasa nyaman dan tenang melingkupi dinding hatinya. Ia pun memeluk tubuh sang Istri dengan erat, tangan kekarnya mengusap lembut kepala Alena, di ciumi berkali-kali sebagai bentuk ungkapan rasa rindunya.
Segelas air tadi tertenggak sampai tatas, karena memang selain enak, asinan buah kuah buatan Alena juga sedikit pedas. Keringat sampai memupuk di sudut dahi Renaldi. Bibirnya pun sampai ikut merah karena kulit wajah Renaldi sangat bersih."Wah, enak sekali, Nona. Ya sudah, kalau begitu saya kembalikan ke dapur dulu," ucap Renaldi yang sudah bersiap membawa mangkuk dan gelas tadi."Eh, jangan!" Alena menahan lengan Renaldi. "Biar saya sekalian mau ke belakang."Renaldi tertunduk merasa segan. "Jangan, Nona! Nanti Tuan Leon marah. Anda sedang hamil, dan tidak boleh melakukan aktivitas lebih.""Ini hanya mangkuk dan gelas saja, Renaldi. Bukan batu lima kilo," kata Alena seraya bangkit. Ia lalu meraih gelas dan mangkuk tadi untuk di bawa menuju dapur.Alena duduk lagi di kursi kecil mini bar dapur. Ia menatap ke arah Renaldi yang sejak tadi sudah menguap beberapa kali. Alena tersenyum miring, sorot matanya menatap penuh licik, berharap pria g
TingTongSuara bel menggema di seluruh ruangan megah Penthouse Leon. Seorang pria berpenampilan formal pagi itu bergegas membukakan pintu. Wajahnya kaku tatapannya sangat dingin. Ia menatap seorang pria berseragam - mengalungi identitas yang tertulis "Teknisi Ac". "Siapa kamu?""Saya teknisi Ac, Tuan. Saya sebulan sekali memang di tugaskan kantor untuk mengecek Ac setiap hunian Penthouse," ucap pria berseragam biru tua tadi. Ia masih mengenakan masker, topi, dan membawa satu kotak perkakas di tangannya. Pria berpakaian formal tadi masih menyipitkan mata. Mungkinkah pria di depannya ini adalah komplotan salah satu pria yang ingin masuk lift tadi malam? Batin anak buah Leon masih terus mengusik. Jika salah sedikit pun, hidupnya tak akan selamat. "Buka masker dan topimu!" ucap Anak buah Leon. Sorot matanya tajam, menunggu Teknisi Ac tadi bergerak. Meskipun berat, namun petugas Teknisi Ac itu akhinya menuruti. Ia segera
Hingga pukul 9 malam, ke-empat pria itu masih duduk di area lobi. Aston bingung apa yang harus dirinya lakukan agar dapat masuk ke dalam lift tadi. Ia duduk di sebelah adiknya, sementara Damian dan Danu duduk di sebrangnya. Dan tak lama itu, sebuah ide muncul dari Tama. Pria itu memang paling muda, tapi kecerdasan Tama memang tidak di ragukan lagi. Itulah sebanya dulu Aston berniat betul menyekolahkan adiknya di jurusan Kedokteran. Meskipun arogan, tapi iq Tama di atas rata-rata. Tama menyerongkan duduknya sambil menepuk pundak sang Kakak. "Mas, aku punya ide menarik."Di saat itulah semua orang berkerumun. Tama menjelaskan secara rinci, dari jalan pertama yang harus mereka lakukan, dan bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Penthouse Leon. Karena Tama yakin betul, Penthouse di atas pasti milik pria singa itu. Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba dari arah pintu lobi datang seseorang dengan langkah tergesanya. Mike, pria itu berhenti, dan melihat
Leon masih terus berjalan. Alena sudah sangat ketakutan, berasa nyawanya di ujung tanduk. Sikap maskulin pria itu tidak membuat Alena terkesima, tapi malah membuatnya ingin muntah. "Alena... Jangan seperti ini, sayang. Ayo kita makan malam dengan romantis. Kamu duduk di sampingku, lalu saya memegang tanganmu dengan mesra."Tangan Leon sudah menjulur mencoba meraih lengan Alena, namun belum sampai Alena lebih dulu menepisnya. "Jangan sentuh saya, Leon?!"Suara Alena melengking, bergetar, air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Sementara Leon kembali tersenyum tipis, menghadapi Alena membutuhkan kesabaran ekstra besar. Namun Leon bukan tipikal orang penyerah begitu saja. Ia sudah berjalan sejauh ini. Alena sudah ada di depan matanya, jadi selangkah lagi ia harus mendapatkan. "Ayolah, sayang... Jangan galak seperti ini," pinta Leon. Suaranya rendah dengan tatapan memohon. "Saya lebih baik tidak makan apa-apa, daripada harus duduk di sa
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se







