"Ran tolong dong ambilkan tisu, piringnya kayak kotor gini," kata Mas Haris saat kami hendak sarapan di meja makan.
"Masa sih, Mas? Itu sudah dilap loh sama Ranti tadi pagi.""Bawel banget, ambilin aja napa sih," sahut Mbak Kania-istri Mas Haris.Akhirnya Ranti yang baru saja akan duduk kembali ke belakang mengambil tisu.Selesai mengambil tisu, Ranti duduk di sebelahku. Saat baru saja ia akan mengambilkan nasi goreng ke dalam piringku ibu sudah kembali memerintahnya."Kecapnya dong Ran, kurang kecap ini nasi gorengnya.""Itu emang sengaja Bu, Bang Ridho gak terlalu suka kalau nasi gorengnya kebanyakan kecap," jawab Ranti."Ya udah sih ambilin aja, pake ngasih alesan segala," sahut Mbak Kania lagi.Karena malas berdebat Ranti kembali bangkit mengambil kecap.Aku mulai memasang wajah tak suka."Ibu 'kan udah bilang, bikin nasi gorengnya dipisah aja buat Ridho sama buat kita, beda selera soalnya," kata Ibu seraya mengambil botol kecap itu dari tangan Ranti."Maaf Bu, soalnya tadi Ranti lagi repot cuci mangkok bekas semalam pada bikin mie, gak tahu bekas siapa tapi mangkoknya lumayan banyak," jawab istriku apa adanya.Aku menarik napas berat, kasihan Ranti, padahal sebelum dia tidur semalam dia sudah cuci semua piring supaya paginya kerjaan terasa lebih ringan, eh malah ada bekas mangkok bekas si Suci dan teman-temannya itu.Sarapanpun berlanjut. Seperti biasa Ranti lebih dulu sibuk mengisi piring dan gelasku sebelum akhirnya ia mengambil untuk dirinya sendiri.Baru selesai ia mengisi air minum ke dalam gelasku, mas Haris sudah kembali bicara."Tolong isi juga gelas Mas dong Ran, habis nih," katanya seraya menyodorkan gelas kosongnya."Yah tekonya habis, Mas," seru Ranti sambil menaruh teko kosong itu di tengah-tengah meja."Ya udah tolong ambilin ke belakang sebentar sana," titah Mas Haris.Aku mulai geram, tak terima kenapa sejak tadi saat mereka butuh apa-apa selalu saja istriku yang disuruh oleh mereka."Kenapa harus Ranti sih, Mas? Mbak Kania kan ada," protesku kemudian, sambil melirik ke arah istri Mas Haris yang juga duduk di sampingnya."Kania belum selesai sarapan, tanggung," jawab Mas Haris dengan entengnya.Aku menyeringai, "tapi Ranti juga belum mulai sarapan, Mas. Kasihan," ujarku lagi."Udah sih Rid biarin aja, Ranti juga gak keberatan ini." Ibu menyahut."Ya gak bisa dong Bu, kasihan Ranti, kapan sarapannya kalau daritadi disuruh-suruh terus?""Wajar aja istrimu disuruh-suruh Rid, kerjaannya kan emang diem di rumah, kecuali kalau istrimu itu kerja kayak si Kania, boleh lah kamu protes."Aku menggeleng kepala, bisa-bisanya ibu bicara begitu, apa beliau gak pikirin bagaimana perasaanku dan Ranti?Walau sehari-harinya Ranti di rumah, bukan berarti mereka bebas nyuruh-nyuruh istriku bukan?"Ranti! Ayo ke belakang! Sekalian ambilkan cardigan yang kemarin kamu setrika mau Ibu pake sekarang," imbuh Ibu lagi pada istriku."Kaos kaki Suci juga dong Kak, sekalian ke belakang," sahut Suci-adik bungsuku."Enggak!" Refleks aku menyahut dengan suara lantang.Kugebrak meja makan sedikit kencang sampai air dalam gelas tumpah sebagian."Istriku bukan pembantu! Jadi jangan pernah kalian suruh-suruh Ranti lagi, kalian paham?" lanjutku, emosiku meluap-luap bak air mendidih dalam panci.Semua orang terperangah. Sejurus kemudian ibu melepaskan sendoknya."Maksud kamu apa? Gak terima kamu istrimu Ibu suruh-suruh?" tanya beliau dengan raut wajah yang sudah berubah.Jelas saja aku tak terima, dari mulai bangun subuh sampai sekarang jam 7 pagi istriku gak ada hentinya di dapur.Selesai sarapan bahkan dia masih harus lanjut ngerjain pekerjaan rumah, entah nyuci bajulah, cuci piring bekas sarapanlah, belanja ke pasar buat besoklah, dan masih banyak lagi tugas istriku yang tak bisa kusebutkan satu persatu.Dan hal itu sudah berlangsung selama 2 bulan ini sejak aku menikah dengan Ranti. Di mana harusnya pengantin baru seperti kami sedang diberi waktu untuk saling mengenal dan mengisi waktu dengan menyenangkan, mereka malah sibuk jadikan istriku sebagai pembantu gratisan.Bagaimana aku tidak marah?"Jelas Ridho gak terima dong Bu, kasihan Ranti dari pagi kerja terus, setidaknya kalau dia sudah ada di meja makan berhentilah nyuruh Ranti, masing-masing orang udah diberi dua tangan dan kaki kan?" jawabku kecut."Ridho!" Ibu menyentak, tampak beliau tak suka mendengar ucapanku."Ya wajar aja Ibu nyuruh dia ngerjain kerjaan rumah, kerjaan rumah 'kan gak seberapa, gak terlalu capek kaya kita kerja nyari duit, lagian 'kan cuma istrimu yang diem di rumah.""Kalau gak mau disuruh-suruh makanya kerja dong nyari duit, lihat aja! Walau Ibu udah tua, Ibu masih kuat tuh kerja ke luar, nyari duit buat makan, biar gak nyusahin orang lain terus," imbuh beliau lagi meneleng tajam ke arah istriku."Tahu heran banget kenapa sih Kak Ridho sensitifan begitu?" sahut Suci."Istri dari kampung aja kamu belain segitunya Ri ... d Ri ... d." Mbak Kania ikut menyahut sambil menggelengkan kepalanya.Dadaku mulai riuh bergemuruh, rasanya ingin kulakban saja mulut mereka itu satu persatu andai mereka bukanlah keluargaku.Entah kenapa tega sekali mereka bicara begitu di depan istriku.Maksud mereka sebetulnya apa? Memang niat membuat Ranti sedih? Atau mereka sengaja supaya Ranti gak diem di rumah lagi, begitu?"Cukup ya!" Aku yang tak tahan akhirnya bertelunjuk jari ke arah Mbak Kania."Udah, Bang!" bisik Ranti menyikut lengan sebelum aku melanjutkan ucapanku."Biarlah Abang bela kamu Ranti, sudah tak tahan rasanya kamu selalu dihina begini. Mereka anggap kamu pembantu hanya karena kamu gak kerja, padahal Abang gak merasa keberatan sama sekali, karena kalau cuma buat makan Abang sanggup berikan," ujarku lagi dengan suara yang sengaja kukeraskan.Mereka semua mengerling dengan bibir tertarik sebelah.Mereka memang begitu, selalu saja merendahkan istriku di mana pun Ranti berada. Dan parahnya jika aku berusaha membela istriku mereka akan tertawa seolah-olah sikapku itu berlebihan."Biar Ranti ambilkan, cuma air seteko 'kan? Kenapa harus ribut-ribut?" sahut Ranti seraya bangkit.Aku kembali menarik tangannya."Bukan masalah air seteko nya Ran, tapi masalahnya harga dirimu akan terus-terusan diinjak-injak kalau kamu selalu menuruti perintah mereka." Tegas aku bicara sambil menatap keluargaku tajam.Ibu mendecih pelan, "terserahlah, istri dari kampung aja kau bela mati-matian," katanya."Ya terus kalau bukan Ridho siapa lagi yang akan belain Ranti, Bu?" Aku menantang, rasanya kemarahanku kini sudah berada di ubun-ubun."Percuma ngomong sama kamu Ridho, Ibu males, kayak kamu nikah sama anak presiden aja sampe gak boleh disuruh-suruh, sadar diri aja sih, hidup aja masih numpang di sini," sinis Ibu lagi.Aku yang sedang marah makin terluka saat ibu bilang kami masih numpang.Akhirnya aku benar-benar bangkit, lalu kutarik tangan istriku."Ayo! Lebih baik kita pergi dari sini!" ucapku tegas.Ibu terperangah, wajahnya berubah cemas saat beliau mendengar aku akan pergi membawa istriku pergi."Tunggu dulu Rid, Ridhooo! kamu mau kemana?"Tak kupedulikan walau ibu berteriak. Aku terus menarik istriku ke kamar dan mulai memasukan baju-baju kami ke dalam koper."Benar 'kan apa kata Ibu? Si Suci memang pelakunya, dasar anak kurang ajar." Ibu geram dan tak bisa mengendalikan emosinya. Beliau pun melangkah ke dalam dengan emosi yang meluap-luap, aku tak bisa mencegahnya sebab langkah ibu yang terlalu cepat seperti kilat. "Suciii." Ibu berteriak di bibir pintu.Suci menoleh dengan wajah terkejut."Kalian?"Tapi kemudian anak itu tertawa kencang."Oh hahaha baguslah kalian sudah datang," ujarnya menantang sambil melotot ke arah kami.Sementara tangan kanan nya memegang sebilah bambu. Rupanya selama diculik istriku disiksa oleh si Suci dengan sebilah bambu itu karena saat kulihat Ranti ia tengah terikat dengan luka-luka lebam di sekitar kaki dan tangannya."Apa yang kamu lakukan pada istriku Suci? Lepaskan dia!" semburku."Dia??" Suci menunjuk kearah Ranti."Hahaha aku gak akan pernah melepaskannya, coba saja kalau kalian bisa lepaskan, lepaskan saja." Suci lalu mengayunkan sebilah bambu yang dipegangnya itu dan hendaknya memukulkannya pada Ran
Aku mematung sebentar, perkataan ibu mungkin ada benarnya tapi apa iya si Suci yang menculik istriku? Untuk apa ia melakukan itu? Dan kenapa harus Ranti? Anak itu memang nekat? Tapi aku harap Jika benar Ranti diculik sama dia, semoga Ranti baik-baik saja dan suci tidak melakukan apapun pada istriku. "Apa Ibu yakin bisa Suci yang melakukannya?" tanyaku lagi, memastikan."Ibu yakin sekali, gak mungkin orang lain, si Suci pasti si Suci."Aku manggut-manggut, sekarang aku sama yakin nya dengan ibu. Bedebah kalau sampai si Suci yang melakukannya, aku pasti akan menangkapnya dan menyeretnya kembali ke dalam penjara. "Tapi kira-kira untuk apa ia melakukan ini, Bu?" Aku bicara lagi."Jangan bodoh Ridho, orang yang sedang dendam apapun akan dilakukan demi hatinya merasa puas."Benar juga apa yang dikatakan ibu."Sekarang kita harus berpikir gimana caranya kita bisa menangkap si Suci dan mencari bukti bahwa dialah yang sudah menculik Ranti," kata Ibu lagi.Aku dan ibu pun diam mencoba menca
Pov Ridho."Ada apa, Bang?" tanya Ranti."Suci kabur.""Apa?" sahut Ibu di belakang."Iya, Bu, katanya Suci kabur dari tahanan.""Ya Tuhan bisa-bisa nya si Suci kabur, itu tahanan atau tempat apa? menjaga anak bau kencur saja tidak bisa." Ibu terdengar makin kesal."Entahlah," balasku sama kesalnya.Mobil pun melaju semakin kencang, gara-gara kabar kaburnya suci dari lapas membuat kami semua resah dan ingin segera sampai ke rumah. Entah apa yang sudah terjadi, kok bisa-bisanya si Suci kabur dari Lapas.Ya Tuhan Semoga saja anak itu tidak berbuat ya aneh-aneh.-Pukul 3 sore kami sampai di rumah.kami langsung masuk dan beristirahat sebab perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, lebih-lebih kami tidak menyempatkan diri untuk beristirahat di rest area tadi siang tadi.Malam hari aku menghubungi pengacaraku. Ia ternyata sudah mengetahui tentang kaburnya suci dari lapas."Iya ini juga sedang saya usahakan, Pak, katanya lapas sedang ada perbaikan, Suci meminta izin untuk membeli pembalut
"Aduh jauh juga ya Ran rumahmu ini, Ibu sampe encok," katanya sambil memegangi pinggang yang sakit.Memang lumayan juga perjalanan dari Jakarta ke Kuningan-Jabar.Bisa 6 sampai 7 jam perjalanan, sayangnya ke Kuningan belum ada kereta atau pesawat jadi hanya bisa ditempuh dengan mobil saja."Emang jauh. Bu, gak ada AC lagi," sahut Ayah lagi-lagi setengah menyindir."Aa." Bunda memberi kode. Spontan ayah pun nyengir.Kami masuk ke dalam rumah. Di dalam makanan enak sudah tersedia, rupanya Bunda menelepon Bik Mursi untuk menyiapkannya saat tadi kami akan pulang."Ayo pada makan dulu, perjalanan jauh capek." Bunda menggelar karpet di ruang keluarga dan mulai menaruh nasi serta lauk pauknya di tengah-tengah."Eh kok udah ada makanan aja, Bu?" tanya Ibu keheranan."Kalau hidup di kampung emang gak usah khawatir Bu, jangankan makanan, uang saja berhamburan di luar rumah," sahut Ayah. Bunda menggeleng kepala."Eh masa sih?""Kalau enggak percaya nanti ikut jalan-jalan keliling desa.""Aa." B
PoV Ranti."Ran, kamu berhasil, Ibu sudah menyesali semua perbuatan buruknya sama kita terutama sama kamu, kamu hebat," bisik Bang Ridho di telingaku.Karena tubuhku masih lemas dan tak bisa bergerak aku hanya membalas dengan senyuman."Kamu seneng 'kan? Makanya kamu harus cepat sembuh ya sayang," ucap Bang Ridho lagi.Aku memejamkan mata."Iya, Bang.""Saya juga mau lihat anak saya, Sus." Kudengar suara gaduh Bunda dan Ayah di luar.Mereka tampak memaksa ingin masuk ke dalam."Maaf Bu, tapi di dalam hanya boleh dua orang saja yang menjenguk."Ibu mertua bangkit, beliau menatapku sekali lagi sebelum akhirnya beliau mengalah dan memberi kesempatan untuk Bunda masuk bergantian."Cepet sembuh ya Lus," katanya pelan nyaris tak terdengar.Sejurus dengan itu ada bagian di hatiku yang rasanya teriris, kali ini bukan karena hal yang menyakitkan tapi karena terharu sekaligus tak percaya ibu mertuaku kini sudah bisa membuka hatinya untuk menerimaku.Ibu mertua keluar, Bunda tergesa-gesa masuk k
"Bisa, Ibu sudah jauh lebih baik hari ini."Aku tersenyum lebar seraya mengusap dada, untunglah aku diberi kesempatan mendonor untuk Ranti. Semoga dengan cara ini aku bisa menebus sedikit kesalahanku padanya.Selesai dilakukan pemeriksaan aku dibawa ke ruang khusus, di sana segera darahku diambil.Selesai melakukan donor aku kembali dibawa ke ruang rawat inap, sebetulnya aku merasa sudah lebih baik tapi dokter menyarankanku agar aku tetap dirawat dulu sampai 2 hari ke depan, lebih-lebih karena aku baru saja melakukan donor."Makasih Bu, Ridho pikir Ibu--.""Ibu minta maaf ya Rid, penyesalan memang selalu datang di akhir," potongku.Ridho mengangguk ragu, kasihan dia, gara-gara aku yang keterlaluan Ridho mau tak mau harus rela menerima batunya juga.Entah bagaimana keadaan Ranti sekarang, semoga menantuku itu bisa sehat kembali."Kapan operasinya dimulai?""Sekarang sedang dipersiapkan Bu dan akan segera dimulai.""Bawa Ibu ke depan ruang operasi Rid, Ibu ingin menunggu Ranti juga di s
PoV Ibu Mertua"Maaf Bu, pasien masih harus istirahat banyak karena tubuhnya banyak yang cidera, luka bekas operasinya juga belum sepenuhnya sembuh," kata Dokter.Aku terpaksa melepaskan diri dari Ranti. Padahal saat ini aku benar-benar tengah menyesali kebodohanku.Kupikir selama ini Ranti adalah menantu yang kurang ajar. Sejak kehadirannya di rumahku sebagai istri nya Ridho aku tak pernah sedikitpun menyayangi dan menerimanya.Bagiku dia adalah benalu, pemisah antara aku dan anak laki-lakiku karena sejak Ridho menikah dengannya ia jadi lebih sering menghabiskan banyak waktu dengan wanita itu.Jujur saja aku cemburu dan tak terima, aku mengizinkan kedua anak lelakiku menikah bukan agar mereka hidup bahagia lantas melupakanku.Aku hanya ingin mereka tidak merusak anak gadis siapapun dan bisa menyalurkan hasrat bilogisnya pada istri mereka masing-masing.Tapi sial, setelah menikah mereka justru memilih jalan sendiri-sendiri, mereka tak lagi meminta bantuan atau pendapatku lagi. Mereka
Tapi tidak, aku tidak boleh ragu-ragu pergi ke kantor polisi, dengan bantuan layar monitor cctv di ponselku aku akan terus memantau gerak-gerik mereka dan memastikan mereka tak banyak bertingkah di dalam rumahku.Pukul setengah 9 aku sampai di kantor polisi, segera kuberikan bukti rekaman suara Suci yang ada di dalam ponselku itu."Baik, Bu, kami akan segera melakukan penangkapan dan pemeriksaan pada terduga.""Baik, Pak, saya tunggu, terduga ada di rumah saya sekarang dan dia berniat terbang ke Surabaya siang nanti," ujarku lagi.Petugas polisi mengangguk paham.Aku kembali bangkit saat sudah menyelesaikan urusanku. Di koridor kantor polisi kutelepon kembali Bang Ridho."Bang, semua beres.""Oke, makasih istriku."Dari sana aku tak kemana-mana lagi, karena khawatir dua brekele itu akan berbuat ulah segera aku kembali pulang.-Sampai di rumah aku mendengar suara ribut-ribut di kamar ibu dan Suci. Perasaanku langsung tak enak, secepat kilat aku berlari menaiki anak tangga."Ibu bilang
"Kenapa Ibu pucat? Apa jangan-jangan bener ya?" tanyaku lagi tanpa jeda.Ibu menggeleng cepat."Mungkin si Suci kecapekan karena udah pergi seharian ke pasar," jawabnya cemas. Kening ibu mendadak basah oleh keringat dingin."Ah masa? Tapi kok si Suci tidurnya kayak orang kena obat ya?" sindirku lagi, ibu makin tersesak-sesak memegangi dadanya."Hati-hati loh Bu, pemakaian obat tidur berlebihan bisa menyebabkan tidak sadar lagi seumur hidup." Aku berbisik di telinganya. Ibu yang sedang panik makin ketakutan."Apaan sih ngaco aja kalau ngomong.""Dih kalau gak percaya tanya aja sama dokter."Ibu makin cemas, ia berusaha membangunkan anaknya berkali-kali. Sementara aku memilih pergi."Ci Suci bangun hei Suci, masa kamu gak mau bangun lagi sih?"Aku terkikik di tangga. Puas rasanya bisa memberi mereka pelajaran meski entah kapan mereka berubahnya.Aku masuk dalam kamar, bosan juga rasanya tak ada Bang Ridho di rumah, aku jadi kesepian meski ada dua brekele yang selalu bikin ulah.Kubanti